<?xml version="1.0" encoding="utf-8" ?>
<rss version="2.0" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">
<channel>
<title>alvinissimoのブログ</title>
<link>https://ameblo.jp/alvinissimo/</link>
<atom:link href="https://rssblog.ameba.jp/alvinissimo/rss20.xml" rel="self" type="application/rss+xml" />
<atom:link rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com" />
<description>ブログの説明を入力します。</description>
<language>ja</language>
<item>
<title>Favorite Tracks of 2015</title>
<description>
<![CDATA[ <figure class="tmblr-full" data-orig-height="604" data-orig-width="620"><img src="https://41.media.tumblr.com/9f70999a03f8d56a931524b1aa797bb5/tumblr_inline_nzz9piHx7j1qcrphq_540.png" data-orig-height="604" data-orig-width="620"></figure><p>Nada-nada terbaik dari tahun 2015 yang nggak cukup didengerin sekali dua kali aja! Harusnya dibikin playlist, tapi gue males ah.</p><p><br></p><p>Diiv - Dopamine<br>Father John Misty - Blank Space<br>Sajama Cut - Curtains For Euro<br>The Garden - Crystal Clear<br>HKT48 - Hawaii e Ikou<br>Sufjan Stevens - Death with Dignity<br>FIDLAR - Punks<br>Fuzz - Pipe<br>Zzuf - Question Mark<br>Title Fight - Chlorine<br>Drake - Hotline Bling<br>Sigmun - Vultures<br>Panda Bear - Boys Latin<br>Kaveh Kanes - Tiger in Your Tank<br>Ikkubaru - Eve<br>Efek Rumah Kaca - Putih<br>Neon Indian - Slumlord<br>Heals - Void</p>
]]>
</description>
<link>https://ameblo.jp/alvinissimo/entry-12110683093.html</link>
<pubDate>Sun, 27 Dec 2015 03:23:42 +0900</pubDate>
</item>
<item>
<title>Imperfectly Perfect: Guided By Voices</title>
<description>
<![CDATA[ <img src="https://33.media.tumblr.com/tumblr_m9jc5ogwRb1rvpx4g.jpg" alt="http://media.tumblr.com/tumblr_m9jc5ogwRb1rvpx4g.jpg"><img src="https://img-proxy.blog-video.jp/images?url=http%3A%2F%2Fwhenkeepingitindiegoeswrong.com%2Fwp-content%2Fuploads%2F2012%2F04%2Fguided.jpg" alt="http://whenkeepingitindiegoeswrong.com/wp-content/uploads/2012/04/guided.jpg"><img src="https://img-proxy.blog-video.jp/images?url=http%3A%2F%2Fmedia-cache-ak0.pinimg.com%2F236x%2Fdc%2F80%2Fbf%2Fdc80bf927553cfdaa21542290b222ac9.jpg" alt="http://media-cache-ak0.pinimg.com/236x/dc/80/bf/dc80bf927553cfdaa21542290b222ac9.jpg"><br><p><br></p><p>Orang punya selera musik berbeda-beda. Juga dengan cara musik itu diproduksi. Ada yang suka suara lembut, benar-benar tak ada desis. Ada juga yang suka sound yang kasar, ada juga yang lebih suka musik live atau di-take secara live.</p><p><br></p><p>Ada juga yang nggak peduli bagaimana kualitas suaranya. Yang penting adalah jiwa di dalam musik sendiri. Ibaratnya mau direkam di atas gunung, dengan recorder seadanya, kalau emang musiknya bagus, ya, bagus-bagus aja.</p><p><br></p><p>Yap, musik semacam itu biasa disebut dengan lo-fi. Bukan genre, sih, tapi memang musik yang sengaja atau tak disengaja direkam dengan alat seadanya, jadi outputnya buruk. Contoh nyatanya adalah Guided By Voices, yang sering membuat album lo-fi.</p><p><br></p><p>Kalau kalian ngeliat last.fm gue, Guided By Voices adalah band yang paling sering gue dengar. Yap, band ini memang keren. Band inilah yang ngasih tau gue kalau lagu sebagus apapun, direkam dengan cara yang buruk pun tetap aja bagus.</p><p><br></p><p>Guided By Voices (selanjutnya disingkat GBV) dengan sengaja merekam lagunya secara lo-fi. Band-band semacam mereka memang terkadang mencari atmosfer atau sesuatu yang beda dengan merekam secara lo-fi.</p><p><br></p><p>Perkenalan gue dengan GBV adalah gara-gara band lokal bernama Sajama Cut. Sang vokalis, Marcel Thee, kagum berat dengan GBV. Gue penasaran, gue pun mendengarkan GBV.</p><p><br></p><p>Gue pun salah dengerin lagu GBV. Yang gue denger malah GBV saat mereka udah nggak lo-fi. Salah satu lagu GBV pertama yang gue denger adalah Hold On Hope. (yang gue yakin banget, misalnya lagu ini diciptain sama Gallagher bros, pasti udah ngehits.)</p><p><br></p><p>Kesan pertama gue adalah “Oke, band ini bagus. Cuma ya gitu aja.” Kesan tersebut berubah setelah gue mendengarkan salah satu album mereka yang paling terkenal, Bee Thousand.</p><p><br></p><p>Kaget bukan kepalang denger album ini, apalagi gue kenalan sama GBV “hi-fi” duluan. Kuping ini belum bersahabat dengan lo-fi dan semacamnya. Jujur, gue bingung. Di satu sisi gue pengen ganti dengerin yang lain aja, tapi sisi lain bilang album ini cukup menarik.</p><p><br></p><p>Perlahan tapi pasti, gue hanyut dengan album tersebut. Kayak buah durian aja, luarnya berduri tapi dalamnya manis. Dibalik segala jeleknya kualitas audio album-album GBV, kita akan menemukan songwriting Bob Pollard, Tobin Sprout, yang manis banget. Lo nggak bakal bisa menemukan melodi khas Bob di album manapun. Kalau disuruh bikin list 10 songwriter terbaik, Bob mungkin gue masukin ke 3 teratas.</p><p><br></p><p>Dan di album ini, lo nggak bakal tau apa yang lo dapatkan di tiap lagunya. Bisa saja folk manis, bisa indie rock, atau lagu berdurasi pendek dengan banyak tape hiss dan noise. Begitu juga album Alien Lanes dan Under the Bushes Under the Stars.</p><p><br></p><p>Secara pribadi, GBV juga membuka kuping gue untuk mendengarkan band semacam Pavement, Built To Spill, hingga Sebadoh. Kalau nggak dengerin mereka, mungkin gue masih ngedengerin musik-musik membosankan seperti Avenged Sevenfold, Slipknot, dan MCR.</p><p><br></p><p>Kalau disuruh milih antara Under the Bushes Under the Stars, Alien Lanes, atau Bee Thousand, cukup sulit juga karena tiga album itu menemani masa-masa gue awal kuliah. Dan mendengarkan mereka bikin gue ngerasa paling hip se-kampus!</p><p><i><br></i></p><p><i>Tambahan: Julian Casablancas ngefans banget sama GBV.</i></p>
]]>
</description>
<link>https://ameblo.jp/alvinissimo/entry-12100857583.html</link>
<pubDate>Sun, 29 Nov 2015 17:03:00 +0900</pubDate>
</item>
<item>
<title>Simplicity is Perfection: Ruins by Grouper</title>
<description>
<![CDATA[ <img src="https://img-proxy.blog-video.jp/images?url=http%3A%2F%2Fcdn2.thelineofbestfit.com%2Fmedia%2F2014%2Fgrouper_ruins.jpg" alt="http://cdn2.thelineofbestfit.com/media/2014/grouper_ruins.jpg"><br><p>Terkadang album yang dibuat secara simpel dan minimalis justru jauh lebih bagus dibanding album yang dibuat sangat mahal, dengan produksi kualitas tinggi, dan hal-hal lain.</p><p>Contoh kayak album Pink Moon milik Nick Drake yang dibuat hanya dengan sebuah gitar akustik dan sedikit sentuhan piano, namun hasilnya malah lebih bagus dari karya-karya Nick sebelumnya yang lebih rumit dengan orkestrasi dan semacamnya. Atau bandingkan review album lo-fi Guided By Voices seperti Bee Thousand dengan album mereka yang dibuat secara “benar.”</p><p>Ya, sesuatu yang simpel terkadang memang lebih indah dari yang ribet-ribet. Dan karya simpel yang menarik perhatian pada 2014 lalu adalah Ruins dari Grouper.</p><p>Album ini direkam sangat simpel. Hanya dengan piano dan perekam 4-track di sebuah rumah Aljezur, Portugal pada tahun 2011 silam. Grouper, yang merupakan proyek solo Liz Harris, merekam seluruh lagu di album tersebut dalam kondisi seperti yang digambarkan di atas, kecuali trek terakhir yang direkam pada 2004 silam.</p><p>Grouper merekam album ini benar-benar secara jujur. Nggak ada tambahan layer vokal, editan studio, dan hal lain. Hujan, suara katak, terdengar di beberapa lagu. Bahkan terdengar suara microwave di akhir lagu Labyrinth.</p><p>Grouper melakukan semua itu dengan sengaja. Bahkan menurut saya, unsur-unsur tersebut malah menambah kelam dan melankolis album ini. Setiap memutar Ruins, saya selalu merasa berada di ruangan yang sama dengan Liz Harris. Merasa ia ada di pojokan, bermain piano di depan jendela yang terbuka, dengan penerangan seadanya.</p><p>Vokal dan permainan piano Liz juga sangat menyentuh hati. Ia terdengar seperti seseorang yang sudah pasrah sekali dengan hidup. Mungkin ia merasa akan mati sebentar lagi. Namun, itulah unsur terbaik yang ada di ruins: kesedihan.</p><p>Kalau kamu beli (atau download) deluxe edition dari Ruins, disc 2 album tersebut berisi suara hujan yang direkam di Aljezur selama 48 menit. Dengarkan dua disc bersamaan, maka Ruins sukses jadi album tersedih sepanjang sejarah.</p><p>Yang bikin unik lagi, saya agak sulit mencari pembanding setimpal album Grouper satu ini. Seperti peribahasa sepak bola saja. Main bola itu simpel, tapi main simpel itu susah.</p>
]]>
</description>
<link>https://ameblo.jp/alvinissimo/entry-12100856013.html</link>
<pubDate>Sun, 29 Nov 2015 16:58:25 +0900</pubDate>
</item>
<item>
<title>Semakbelukar Lebih Punk dari Dirimu</title>
<description>
<![CDATA[ <figure class="tmblr-full" data-orig-height="806" data-orig-width="1080"><img data-orig-height="806" data-orig-width="1080" alt="image" src="https://36.media.tumblr.com/b3094a1c843d109ef6d61d104ba95f9f/tumblr_inline_nxrgg6fKrN1qcrphq_540.jpg"></figure><p>Awalnya saya cuma memandang sebelah mata band ini. Lokalisasi Beirut, pikir saya. Namun ternyata mereka bukan hanya versi melayu dari Gulag Orkestar. <br></p><p><br></p><p>Semakbelukar adalah band melayu paling punk, dan band punk paling melayu. Simak saja lirik Seloka Beruk, kritik mereka terhadap tatanan dunia yang korup atau Kalimat Satu, anthem perlawanan terhadap kekerasan ekstra-judisial aparat keamanan negara. Begitu juga sikap Semakbelukar untuk menolak karya mereka dijadikan soundtrack yang dibuat dengan pembiayaan dari pihak Barat. <br></p><p><br></p><p>Dan tentu saja yang tak terlupakan adalah keputusan mereka menghancurkan alat musik dan membubarkan diri sebagai statement politik untuk menolak di-kooptasi oleh mesin produksi industri musik yang hanya mendewakan profit, tepat di saat mereka sedang naik daun dan baru saja merilis album yang sudah sangat ditunggu penikmat musik! <br></p>
]]>
</description>
<link>https://ameblo.jp/alvinissimo/entry-12100854908.html</link>
<pubDate>Sun, 29 Nov 2015 16:55:50 +0900</pubDate>
</item>
<item>
<title>My Favorite Records of 2015</title>
<description>
<![CDATA[ <figure data-orig-width="1296" data-orig-height="968" class="tmblr-full"><img src="https://41.media.tumblr.com/3d6b0bbd2af2217ccc5f2fd0af2932e9/tumblr_inline_nt6lc8uOjO1qcrphq_540.jpg" alt="image" data-orig-width="1296" data-orig-height="968"></figure><p>Rilisan-rilisan ini adalah musik yang sering saya dengarkan kurang lebih setahun terakhir. Ya standar sajalah, list tahunan yang seakan jadi kewajiban padahal mengerjakannya pun malas-malasan. Itulah kenapa review-nya cuma satu-dua kalimat. Ini dia daftarnya!<br></p><p><b>Panda Bear - Panda Bear Meets the Grim Reaper </b><br>Mengobati kerinduan akan karya Animal Collective. Tapi lebih enak dinikmati dari beberapa rilisan AC terakhir.<br></p><p><b>Sajama Cut - Hobgoblin</b><br>Karya termegah, terumit, teramai dari Sajama Cut.</p><p><b>Tame Impala - Currents</b><br>Kevin Parker cs. tak pernah mengecewakan.</p><p><b>Tricot - AND</b><br>Mereka makin dikenal dunia setelah merilis album ini.</p><p><b>A City Sorrow Built - AI</b><br>Tebal, trengginas, bising, dan tentu saja penuh sayatan.</p><p><b>The Garden - haha</b></p><p>Duo paling badass tahun ini.</p><p><b>Deafheaven - New Bermuda</b></p><p>Cuma New Bermuda yang bisa bikin Sunbather jadi terdengar jelek.</p><p><b>Jamie XX - In Colour</b></p><p>Not your usual electronic shit.<br></p><p><b>Desaparecidos - Payola</b><br>Karya terbaik Conor Oberst setelah I'm Wide Awake, It's Morning.</p><p><b>Nogizaka46 - Toumei na Iro</b><br>Sepertinya saya sudah beberapa kali membahas kelompok ini di http://andyouprobablywill.tumblr.com/. Kamu bisa baca di post-post sebelumnya kenapa mereka keren.</p><p><b>OneManKaraoke - Friends United</b></p><p>Buat kamu yang suka Weezer, Ozma, atau The Adams.<br></p><p><b>Godspeed You! Black Emperor - Asunder, Sweet and Other Distress</b><br>Orkestra akhir jaman yang selalu bisa menggambarkan bahwa dunia tak sebaik yang kamu kira.</p><p><b>Plastic Girl In Closet/The Evening Primrose - Split</b><br>Shoegaze dari Jepang dan Hong Kong dengan vokalis perempuan, saya sering sebut dengan "kawaii-gaze"</p><p><b>Spool - Discography</b><br>Underrated shoegaze trio from Japan.</p><p><b>Polka Wars - Axis Mundi</b><br></p><p>Vokal Karaeng plus skill mumpuni para personelnya, dan kemauan mereka untuk terus belajar adalah kunci dari kerennya Axis Mundi.<b><br></b></p><p><b>HKT48 - 12Byou</b><br>Mayoritas EP/single idol group hanya 1-2 lagu saja yang bagus. Tapi di 12Byou, semuanya bagus.</p><p><b>Title Fight - Hyperview</b><br>Ketika band melodic hardcore bermain-main dengan efek-efek shoegaze.</p><p><b>Tarrkam - Trancend Massive Culture</b></p><p>Hardcore yang bukan sekedar power chord. Banyak genre lain yang ikut nyempil di lagu-lagu Tarrkam.<br></p><p><b>Various Artist - Holy Noise</b><br>Salah satu kompilasi indie lokal terbaik tahun ini. Eh emang ada lagi ya?<br></p><p><b>Mbongwana Star - From Kinshasa</b></p><p>Musik paling menarik tahun ini justru berasal dari Kongo!</p><p><b>Beach House - Depression Cherry</b></p><p>Seperti judul albumnya, depresi dan buah ceri. Terdengar kelam namun juga manis secara bersamaan. <br></p><p><b>Flukeminimix - From Spaces to Space</b></p><p>Bukti bahwa masih ada band “post-rock” lokal yang menarik di telinga. <br></p><p><b>Sigmun - Crimson Eyes</b><br>Hipnotis Sigmun makin tokcer, penantian terbayar sudah.</p><p><b>Sufjan Stevens - Carrie &amp; Lowell</b><br>Saya punya hubungan yang sangat dekat dengan ibu dan album ini sangat membuat hati saya tersentuh.</p><p><b>Efek Rumah Kaca - Sinestesia</b><br>Jelas bukan ERK yang dulu, mereka kini menjelma menjadi sesuatu yang lebih membius dan semoga ini bukan "final form" mereka.</p><p><b>Kaveh Kanes - Capital</b><br>Makin matang dari karya mereka sebelumnya!</p><p><b>PENS+ - OUR Days.</b><br>Mengingatkan saya akan The Cab (RIP), tapi lebih anak muda.</p>
]]>
</description>
<link>https://ameblo.jp/alvinissimo/entry-12100853769.html</link>
<pubDate>Sun, 29 Nov 2015 16:49:37 +0900</pubDate>
</item>
</channel>
</rss>
