<?xml version="1.0" encoding="utf-8" ?>
<rss version="2.0" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">
<channel>
<title>shin ji kyoのブログ</title>
<link>https://ameblo.jp/shinjikyo/</link>
<atom:link href="https://rssblog.ameba.jp/shinjikyo/rss20.xml" rel="self" type="application/rss+xml" />
<atom:link rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com" />
<description>ブログの説明を入力します。</description>
<language>ja</language>
<item>
<title>FF OVER 1 0f 2 / PG 13 /  Ji~Hwan ver.(Twoshoot)</title>
<description>
<![CDATA[ Tittle : OVER (Ji-Hwan Couple)<br>Author : My My My<br>Rated : PG 13<br>Type : Twoshoot (1-1)<br>Genre : Romance<br> Cast : - Choi MinHwan<br>  - Jung Il Wo <br>         - Ri EunHye (Ji~) (OCs)<br><br>A/N: Dengan segala kemungkinan yang ada(?) author siap dihujat tanpa pamrih<br>V~,~V<br><br>Hepi ridiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing <br><br><br>‘<em>Over’ By _Eddie Shin ft. Kayoko_<br><br> I Don’t want to let you go<br> I really don’t want to see you go<br> But its time for us to say goodbye<br> I hate to say its over now</em><br><br><br> Sorot matanya tajam menatap pria mature di hadapannya. Marah?? Tidak, justru gadis itu tak tahu apa yang dirasakan hatinya sekarang. Dua sisi berbeda dalam hatinya selalu berperang memenangkan situasi dan presepsi yang berbeda.<br> "Jadi kau tetap akan pergi ?"<br> "ne~, kau bisa mengerti kan eunhye-ah, kuharap kau mau menungguku"<br> "entahlah,1 tahun masa pacaran kita belum tentu menjamin aku mau menunggumu”<br>“wae ? ..kau ra.....”<br>“yah, , , aku ragu. Aku takut jika yang terjadi itu sebaliknya. Aku takut kau yang melupakanku"<br> "tidak akan, jika kau mau berjanji untuk menungguku, aku akan melakukannya juga." ujar pria itu dengan senyum khasnya. Sementara gadis bernama eunhye itu hanya bisa diam tanpa ekspresi mendengarkan pria itu berbicara.<br> "Australi tidak jauh, kau tidak perlu takut aku tidak kembali." yakin pria itu memegang bahu eunhye.<br> "baiklah, aku harus pergi, pesawatku take off  30 menit lagi, jaga dirimu eunhye-ah, jalga" pria itu berpamitan sambil mengecup pipi eunhye. Tidak ada reaksi sama sekali dari gadis itu ketika menatap kepergian pria yang sudah mencintainya 1 tahun terakhir ini. Sedih, ini terlalu menyedihkan bagi eunhye untuk sekarang ini. ketika ia benar benar membutuhkan sosok pria itu untuk membantu menyembuhkan penyakitnya. oh...tidak, ‘kebiasaanya’.<br><br> <em>I Don't want to let you go<br> I really don't want to feel so cold<br> But it's hard for me to say goodbye<br> I hate to say it's over now</em><br><br><br> _3 years later_<br><br> "mwo?? jangan memandangku seperti itu. kau tahu, tatapan matamu itu menakutkan"<br> "issh~"desis eunhye. Sosok pria tampan disampingnya hanya membulatkan mata sekedar mencari jawaban atas tatapan tajam yang diberikan kekasihnya.<br> "kau benar menyayangiku ??" tanya Eunhye merebahkan kepalanya ke bahu pria tampan disampingnya itu."bagaimana jika aku tidak merasakan hal seperti itu terhadapmu,"<br> "wae? Apa kau masih memkirkan tentang Minhwan?? Tsk,aku akan tetap menyayangimu, itu sebabnya aku berada disampingmu sekarang ini" *nosebleeen bii~ T^T<br><br><br><em>Flashback</em><br><br><br> Eunhye POV<br><br> Puas!!!. Tapi aku masih ingin melakukannya lagi hahahah.<br>Sambil terus memakan coklat crispy bar, langkahku sedikit melambat ketika menyusuri jalanan di pinggiran sungai han. Targetku selanjutnya. Bukan hanya karena keramaian yang aku dapati di tepian sungai han ini tapi Sekaligus kutemukan target untuk sasaranku berikutnya. YES!!<br>Sreett~<br> Orang itu. Seseorang dengan sesuatu yang begitu menarik perhatianku tampaknya sangat menikmati aktivitasnya memotret beberapa sisi keindahan sungai han. Sekarang saatnya. Dengan sigap kuambil ponsel berbandul emoticon smile berwarna kuning dari saku belakang celananya dan segera pergi. Tapi kurasa keberuntunganku sedang tidak baik. Ia tiba tiba saja sudah mencengkeram pergelanganku hingga memutarnya kebelakang. Membuatku kini tertahan ditubuhnya oleh lengannya kekar yang menahan leherku. <br> "kau tidak bisa melakukannya padaku anak nakal, kau pikir aku tidak tahu” ia berbisik pelan. Nafasku memburu ketakutan diiringi bulir keringat yang mengucur deras melalui pori pori wajahku. Aku takut pria ini melakukan hal kejam terhadapku. Pelecehan seksual!!!! Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaa *Plaaak=,=<br> "Lepaskan aku!!"<br> " Tidak akan. kau pikir segampang itu huh?. Anak nakal sepertimu sebaiknya kuserahkan ke kantor polisi"<br> "andweee~ jangan macam macam. Memangnya apa salahku huh" pria itu menggantung tanganku kehadapan wajahnya. Seolah menyadarkanku akan barang miliknya yang sudah berpindah tangan. <br>"Lalu ini apa huh??. Ini milikku, tapi kenapa bisa ada ditanganmu. Kau mencurinya" ujarnya. Skak mat!!! Kali ini aku sudah tertangkap basah. Tidak mungkin bisa mengelak. Tapi aku harus meawan. Yah~ melawan. Aku takut jika dia serius akan membawaku ke kantor polisi. Kukerahkan seluruh tenagaku untuk bisa lepas dari cengkramannya. Sayang, jelas tidak mungkin tubuhku yang kurus kering menyisakan tulang ini bisa melawan tenaganya yang lebih besar dariku.<br> "LEPASKAAN!!" aku memberontak. Semua orang yang berlalu lalang mengalihkan perhatiannya. Memandang aneh kerahku dan pria tampan tak berperasaan itu.uups~. Diseretnya tubuhku menjauh dari keramaian.<br><br> "keluarkan semua" ujarnya.<br>"apa?!!?. . . .Memangnya apa yang harus kukeluarkan" dia melepas lengannya yang sedari tadi menahan leher beserta cengkramannya di tanganku. Direbutnya ponsel flip top miliknya dari genggamanku.<br> "barang barang itu bukan milikmu, cepat keluarkan atau aku yang akan mengeluarkannya sendiri secara paksa" pria itu berkacak pinggang. Memberikan sorot mata tajam kearahku.<br> "kau!! Aku tidak punya urusan denganmu" sengitku, lalu beranjak pergi. Na’as!! aku kalah cepat darinya. Ia buru buru menahan lenganku.. Tangannya menyelinap ke saku belakang celanaku dan mengambil sesuatu. Dasarr messuuuuum !!!!<br> "kalung ini bukan milikmu" ujarnya. Ia merogoh saku kemejaku yang terbuka. Hanya berfungsi sebagai outfit melapisi kaosku.<br> "ponsel ini sangat mahal, pintar sekali kau memilih barang curianmu, hqeh" ejeknya. Ia beralih ke saku depan celanaku dan merogohnya.<br> "mwo?? Sampai tali bra bermotif lollipop seperti ini kau curi juga??? Ck. .ck. . Payah"<br> "apa urusanmu, cepat kembalikan" aku memekik meminta semua barang itu kembali. Ia meraba raba seluruh tubuhku mencoba mencari apa masih ada barang lain yang kusembunyikan.<br> "buka sepatumu"<br> "apa apa'an kau ini, kau pikir kau siapa berani memerintahku seperti itu!!" bentakku emosi. Ia tak bergeming dan malah berjongkok. Ia segera melepas sneaker kesayanganku dan melemparnya begitu saja sembarangan. rrawwwarrr<br> "ya~ lepaskan" aku meronta memukul mukul punggungnya tanpa ampun.<br> "bagaimana bisa kau menyimpan mug sekecil ini disepatumu (author brasa aneh pas nulis =.=a) ck. . .ck pintar sekali. Ukuran sepatumu pasti lebih besar dari ukuran kakimu"<br><br> "puas, kau huh?? Bawa pulang saja barang barang itu, aku tidak butuh"<br> aku memutar tubuhku untuk segera pulang. Jangan harap kali ini dia bisa menahanku lebih lama. Emosi, marah bercampur ketakutan sudah bercampur jadi satu dalam diriku.<br> Seettt~ <br> Pria itu melepas topi dikepalaku. Mengakibatkan rambut sebahuku jatuh tergerai.<br> "ada 30ribu won di dalam topimu, kenapa kau menyimpannya sendiri huh, curang sekali" ia mengambil lembaran won dari dalam topiku dan memandangku dengan tatapan tajam.<br> "m. . Mwo?!! Kau. . . Jadi kau wanita"<br> "IYA!! KAU HERAN?? Tidak usah menatapku seperti itu." ketusku.<br> "terimakasih sudah menuduhku sebagai pencuri, aku memang mengambil barang barang mereka tapi aku hanya meminjamnya. MEMINJAMNYA!!!" ketusku. Ia hanya membuka mulutnya seperti orang linglung. Aku segera pergi dari hadapannya. Menyebalkan. Untung saja aku bisa menahan diri, kalau tidak,.,,.,.Rraaaaaawrrrrrrrr *catwomen beraksi<br> "hey. . .tunggu"<br><br><br>oooooooOOOOOooooooo<br><br><br> "Raan~ kumohon, bantu aku agar bisa sembuh,, " <br> "membantumu??? Bagaimana caranya menyembuhkan cleptomaniamu???”  Ran sedikit menekankan kalimatnya..<br>“setidaknya kau harus berusaha menahan dirimu sendiri. Akn sangat sulit jika orang lain yang harus memaksamu berhenti" tandas Ran.<br> "jangan menyebutku cleptomania, aku tak suka =,="<br> "lalu apa? Pencuri. . . Hahaaha, kurasa itu lebih menyakitkan " candanya sembari menepuk bahuku pelan.<br> "tsk, lalu aku harus bagaimana, aku tidak ingin mencuri lagi. Sungguh, aku benar benar malu. kemarin seorang pria menangkap basah aksiku"<br> "mwo?" Ran terlonjak dari kursi didepan komputer dan menghampiriku di ranjang.<br> "kau tertangkap basah? Bagaimana bisa? dia melaporkanmu ke polisi?" Ran memberondongku dengan berbagai pertanyaan.<br> "panjang, aku malas menceritakannya padamu, kerja otakmu lambat sekali" cibirku. Ran memutar bola matanya menatapku jengkel.<br> "kali ini kau beruntung, jika kejadian itu terulang lagi, bisa bisa kau dijebloskan ke penjara"<br> "kau menakutiku??"<br> "tidak, apa untungnya" Ran memasang wajah mengejek. Ada benarnya juga apa yang dikatakan Ran. Sekarang aku memang beruntung karena pria itu tidak sampai melapor ke polisi, tapi untuk berikut dan berikutnya. Jika aku masih melakukannya. Eerrrrrr~ ,.,.,.pintu penjara begitu jelas melayang di benakku.<br> "Ran, kau jadi pergi ke toko buku hari ini?? Kenapa Mir belum menjemputmu"<br> "aku pergi sendiri, dia sedang ada praktikum di kampusnya"<br> "ahh. . .kalau begitu biarkan aku menemanimu pergi. Janji! kali ini aku tidak akan memintamu mentraktir es krim"<br> "geez~ ,,,,, maniak es krim!. aku masih bisa pergi sendiri. Aku tidak ingin kau menjadikan toko buku itu targetmu berikutnya. "<br> "aniyo~ aku tidak akan melakukannya Ran, aku pasti bisa menahan diri, janji! biarkan aku menemanimu" janjiku, entah untuk yang keberapa kalinya sambil memohon, mengoyak lengannya. Sesaat Ran mengangkat alis sembari mengangguk setuju. <br><br>oooooooOOOOOooooooo<br><br><br> Side POV<br><br> Aku melihatnya lagi. Gadis itu, aku bertemu dengannya lagi dengan penampilannya yang berbeda. Meski aku bisa mengenali posturnya dengan tatanan rambut tergerai tanpa topi itu.<br>Ia meraih satu buku dari rak.<br>‘Memangnya buku apa yang bisa dibaca oleh anak nakal seperti dia’<br>Gadus itu hanya membuka lembar demi lembar secara acak. sebentar kemudian kulihat ia menyelipkan bukunya ke balik punggung. <br> "kembalikan eunhye-ah, kau sudah berjanji tidak akan melakukannya bukan!!?" tegur seorang gadis cantik berbicara dari arah belakang punggungnya.<br><br> "tsk, kau selalu saja bisa menebak =,=" gerutu gadis yang tadi dipanggil eunhye oleh temannya itu. Jadi namanya eunhye.<br><br> "cepat kembalikan atau aku marah padamu"<br><br> "Ne ne. . . .cerewet sekali" gadis yang tadi memperingatkan eunhye kini beranjak menyusuri dua rak berikutnya meninggalkan eunhye sendiri. Aku mendekat kearahnya.<br><br> "haii…. akhirnya Kita bisa bertemu lagi" sapaku enteng. Dia terkejut dan segera memutar tubuhnya hendak pergi.<br>"mau kemana anak nakal, kau mau mencuri lagi ya, ck. . Ck. . .ck, kau tahu kan satpam yang berjaga di pintu masuk??" aku menahan bahunya memutar kearahku.<br><br> "untuk apa kau kemari, sengaja ingin membuntutiku huh?? Kau belum puas membuatku malu tempo hari. Tsk aku malas berurusan denganmu"<br><br> "Tunggu, kau menginginkan benda ini kan" kataku sambil menggantung bandul ponsel berbentuk smile. Air wajahnya berubah. Matanya begitu memperlihatkan jika dirinya memang tertarik dengan benda ini. Tapi gadis manis itu segera merubah mimik wajahnya berubah garang. Sedikit garang. Seperti gengsi jika ia benar benar menginginkan benda ini. Tunggu,,.,.,aku menyebutnya manis???. Hahahah,.,. apa aku sudah gila=,=. Tanpa pikir panjang kuberikan bandul ponsel itu padanya. Ia menatapku bingung sembari menggenggamnya.<br><br> "Eunhye-ah, kajja kita pulang, aku sudah mendapatkan buku. . .nya" ujar suara gadis yang tadi memergoki Eunhye. Dia memotong kalimatnya saat melihatku menggenggam tangan temannya.<br><br> "ah. . .Ran kau sudah selesai?? Kajja kita pulang" ajaknya. <br><br> "dia. . .temanmu?"<br><br> "ah ani. . Aku tidak mengenalnya, sudahlah lebih baik kita pulang saja" ujarnya seraya mendorong tubuh temannya untuk segera pergi.<br><br>‘jadi namamu eunhye?’<br><br><br> "heii. . .namaku Jung Il Woo, kau Eunhye kan" panggilku dengan nada tinggi meskipun ia tak merespon sama sekali panggilanku. Sadar jika ini masih ada didalam toko buku, semua mata memandang kearahku seolah menyuruh untuk membungkam mulutku rapat rapat.<br><br> <em>_Flashback End_</em> <br><br><br> <strong>Minhwan POV</strong><br><br> Kuperiksa sekali lagi koper diatas ranjangku dan merapikan isinya. Besok pagi pagi sekali aku harus bertolak ke seoul setelah selesai menuntaskan masa studyku di australia. Aku merindukan seoul, aku merindukan semua yang ada disana, tak terkecuali kekasihku.<br><br> "aku menepati janjiku eunhye-ah, aku akan kembali ke seoul dan bertemu denganmu" batinku. Tak lepas memandang layar ponsel. Menampakan diriku dengan bibir mengerucut sebal dan eunhye disampingku.<br> Minhwan POV END<br><br> <br><br> <strong>Author POV</strong><br><br> Semua berjalan seperti air. Mengalir begitu saja tanpa direncanakan.terjadi tanpa prediksi yang pasti namun beginilah kenyataanya. Pria bernama jung il woo yang dikenal eunhye setahun setelah kepergian minhwan itu, kini menjadi kekasihnya tanpa bisa disangkal. Terlalu banyak kenangan yang ditorehkan il woo dalam kilasan hidup seorang Ri Eunhye. Perjuangan il woo selama ini demi menemani dan membantu eunhye menghilangkan kebiasaan buruknya sudah membuat gadis itu jatuh hati. Tidak menyangkal jika hatinya juga menginginkan lebih dari sosok seorang Jung Il woo. Lebih dari sekedar teman baginya.<br><br> Chu~<br><br> "YAA~ ini tempat umum, kenapa menciumku tiba tiba!!" protes eunhye seraya melayangkan tinjunya.<br><br> "tidak ada larangan disini untuk melakukannya. Tetanggamu juga tidak akan ada yang memperhatikan kita" ujar pria itu dengan tatapan menggoda. membuat eunhye salah tingkah.<br><br> "sekali lagi kau melakukannya, kau akan tahu . . ."<br><br> "eunhye-ah" sebuah suara berseru  memanggil namanya membuat kalimatnya terhenti. Terkejut. Sadar akan siapa sosok yang ditangkap oleh retina matanya di seberang jalan. memperhatikan dengan seksama pria yang kembali mengusik hatinya. Sekali lagi gadis itu menajamkan penglihatannya, memastikan apa yang dilihatnya adalah benar. Yah, pria itu, ‘kekasihnya’ telah kembali.<br><br> "Minan!!" serunya. Minhwan tersenyum menampakkan eye smile' yang menjadi khasnya berjalan mendekat. Dipeluknya tubuh gadis kurus itu. Postur tubuhnya yang lebih pendek tak sedikitpun menghalangi niatnya untuk mengecup pipi eunhye. Kekasihnya.<br><br> "Aigoo~ aku sangat merindukanmu noona, bagaimana keadaanmu, apa baik baik saja?" tanya minhwan antusias, membuat gadis itu hanya bisa berdiri mematung. Ia tidak tahu harus berbuat apa ketika dua namja yang telah mengisi hidupnya kini berada dalam satu tempat yang sama. Dengan ‘posisi’ yang sama. Tapi Minhwan seolah tidak menyadari sosok Jung il woo disana.<br><br> "Sebaiknya aku pulang eunhye-ah" il woo berpamitan. Menyadari akan kebekuan yang merasuki tubuh eunhye.  Gadis itu hanya bisa mengangguk kaku seperti robot seolah tersihir oleh keadaan.<br><br> <strong>Author POV END</strong><br><br><br> <strong>Minhwan POV</strong><br><br> "siapa pria itu?? Aku baru melihatnya"<br><br> "dia. . . Namanya jung il woo, dia temanku"<br><br> "teman??" tanyaku sangsi sambil mengerutkan keningku.<br><br> "ah yaaa, itu pasti temanmu,, kenapa aku jadi berpikir itu kekasihmu, babo haha, kalian akrab sekali kelihatannya" potongku cepat. Cih, teman?? Apa berciuman ditempat umum seperti tadi bisa dikatakan teman. Jangan kira aku tidak melihatnya eunhye-ah.<br> <br> Tidak ada teman yang berani mencium temannya seperti yang kalian lakukan tadi jika tanpa hubungan yang spesial. Kau membohongiku!! Apa kau berniat mengkhianatiku ri eunhye?? Aku kembali untuk menepati janjiku.<br><br> "nan bogoshippeo ji~ kau lama tidak memberi kabar padaku akhir akhir ini. Memangnya kau tidak rindu padaku huh??" <br><br> "ahaha. . . kedatanganmu benar benar membuatku terkejut minan, kenapa tidak memberitahuku sebelumnya" eunhye tertawa garing. Aku sadar, dia pasti shock melihatku tiba tiba sudah berada di seoul sekarang ini.<br><br> "kejutaan.,,.,.,.,.,." tawaku lepas dan kembali memeluknya. Berusaha mencairkan kebekuan.  Berusaha bersikap biasa biasa saja seolah tidak ada hal aneh yang sebenarnya ingin sekali kuketahui.<br><br> "aku lapar, kajja kita masuk, ahjuhmma pasti sudah memasak makanan, sebentar lagi kan makan malam" ujarku semangat. Aku menarik tangan eunhye untuk masuk ke dalam rumahnya tanpa menunggu jawaban.<br><br><br> <strong>Eunhye POV</strong><br><br> Voila! Lihat hidupku sekarang. Dua orang itu kini hadir bersamaan masuk dalam kehidupanku. Membuatku bertambah bingung dan terperangkap oleh permainan cintaku sendiri. Bingung dengan perasaanku yang sebenarnya. Aku terlanjur mencintai il woo ketika aku masih berstatus sebagai kekasihnya. Saat itu aku takut minhwan melupakanku. Tidak lagi mencintaiku sekembalinya dari Australia. Membuatku memilih menyelamatkan perasaanku sendiri dari rasa sakit hati. Membiarkan perasaanku mencintai dan dicintai orang lain. Dan sekarang minhwan benar benar kembali dengan penampilan yang sedikit lebih dewasa dari tiga tahun yang lalu.<br><br>Ia semakin tampan. Choi Minhwanku.<br><br> "ji~ waeyo?? Kenapa hanya diam sejak tadi, kau tidak senang aku mengajakmu ke taman ini?" minhwan mmengayun ayunkan tangannya didepan wajahku. Membuatku sedikit terkejut.<br><br> "ah aniyo. . . hanya merasa kedinginan saja" bohongku. Minhwan tersenyum. Aku sangat suka melihat senyumnya seperti ini. Matanya yang menyipit selalu bisa membuatku gemas.<br><br> "Minanie. . .apa yang membawamu mau kembali kesini?, ahjuhssi dan ahjuhmma kan tinggal disana"<br><br> "dirimu" jawab minhwan cepat.<br><br> "nde??"<br><br> "aku kembali karena dirimu ji, aku menepati janjiku untuk tidak melupakanmu dan kembali kesini, kau juga kan" tanyanya. Kali ini aku merasa tersudut dengan pertanyaannya.<br><br> "Jika aku melupakanmu. . . Bagaimana??"<br><br> "aku pasti akan langsung menikahimu" tawanya. Aku mendesis memukul lengannya.<br>“sebelum orang lain memilikimu” ia melanjutkan kalimatnya. Aku tertegun beberapa saat. Berharap kata-atanya barusan tidak bermaksud apa apa. Dia tidak tahu. Dia tidak mengenal il woo, terlebih hubungan kami.<br><br> "tunggu disini, kau mau kubelikan es krim?? Aku segera kembali" belum sempat aku menjawab minhwan sudah melesat menghampiri penjual es krim di ujung pintu taman. semakin miris menyaksikan ini semua. aku tak tega untuk menyakiti minhwan meski perasaanku sudah berubah terhadapnya. Il woo berhasil membuatku mencintainya, rela menemaniku berjuang keras melawan ‘penyakit’ yang mereka bilang cleptomania itu.<br><br> Langkahku berhenti disamping seorang wanita cantik. Terlihat sekali ia sedang sibuk berbicara serius dengan seseorang melalui ponselnya. Tanganku mengarah ke pinggangnya dan menyentuh benda logam tipis yang melingkar ditubuh rampingnya.<br><br> "jangan memulainya lagi, kau sudah berjanji untuk tidak mencuri lagi kan??" bisik seseorang seraya menangkis tanganku secara tiba-tiba dan mencengkeramnya. Membatalkan aksiku.<br><br> "aah maaf nona, apa itu uang koinmu, sepertinya kau menjatuhkannya tadi" tunjuknya ke rerumputan. Mengalihakn perhatian wanita itu kebawah. Membuatnya membungkuk dan memungut sesuatu apa yang disebutnya koin tadi.<br><br> "ah Ne. . gomawo" ujar wanita itu lalu bergeser sedikit menjauh dari tempatnya semula.<br><br> "oppa~" seruku.<br><br> "wae, ini sudah malam,kenapa berjalan sendirian disini" tanya il woo masih terus memegang tanganku.<br><br> "ani, aku bersama minan, dia sedang beli es krim. ."<br><br> "jii~ es krim untukmu" minhwan berjalan cepat kearahku. "oh, kau ada disini juga??"<br><br> "minan, kau makan sendiri saja es krimnya, sepertinya aku sudah kenyang" kataku beralasan. Konyol!! Bahkan aku saja belummakan malam. Ekspresinya berubah dingin dan kaku ketika aku menolak pemberiannya.<br><br> "maaf sudah mengganggu kalian, sebaiknya aku pergi" il woo yang menyadari perubahan suasana diantara kami bertiga langsung mencoba menjauh. Kutarik tangannya sebelum ia pergi.<br><br> "tunggu oppa!"<br><br> "oppa?? Ji~ ...Kau memanggilnya oppa?? Apa hubungan kalian sedekat itu?" desak minan. Wajahnya seolah menghakimiku meminta jawaban jujur.<br><br> "Dia. . . Sudah kubilang dia temanku min. . ."<br><br> "aku kekasihnya!" potong il woo cepat sebelum kalimatku tuntas. Tiba tiba saja tenggorokanku seperti tercekat.<br> 'Ini bukan waktu yang tepat Jung il woo, kenapa kau mengatakannya sekarang. Aku butuh waktu untuk ini' batinku. Tubuhku membeku, tidak, minan juga. Ia sama diamnya denganku menatapku dan il woo secara bergantian.<br><br> "eoh" hanya itu tanggapannya. Bibirku menganga melihat ekspresi minhwan yang datar datar saja. Kupikir dia akan marah atau bahkan melayangkan bogemnya. Sekilas ia melirik kearah tangan kami yang masih bergandengan. lalu kemudian ia tersenyum seolah tidak ada apa apa.<br><br> "ji~ aku mau pulang sekarang, kau mau ikut bersamaku atau tidak"<br><br> "minan. . .noe gwenchanayo??" tanyaku hati hati. Lagi lagi ia hanya tersenyum tanpa berkata YA atau TIDAK.<br><br> "ah arraseo,.,.,.sebaiknya aku pulang sendiri saja. jalga,," minhwan melambaikan tangannya sebelum akhirnya berjalan menjauhi kami. Menyisakan pertanyaan yang bergelut didalam benakku. Bukan itu respon yang ingin kudapatkan. Lebih dari itu. Aku ingin respon yang menunjukkan jika ia benar benar marah!!. Atau,.,.,membiarkanku melakukannya. Menyakiti hatinya demi orang lain.<br><br><br> "oppa"<br><br> "hmm"<br><br> ". . ."<br><br> "dia baik baik saja, kau lihat kan" ujar il woo berusaha membuatku tenang. Tanganku masih menggenggam erat meremas tangannya. Aku menangis seketika. Lagi lagi tidak tahu harus berbuat apa.<br><br> "kau menyesal melakukan ini semua?" tanyanya. Aku menggeleng lemah sambil terus membiarkan air mataku mengalir emmbasahi pipiku.<br><br> "apa kau pikir ini waktu yang tepat untuk mengatakan padanya. Aku hanya merasa kurang siap oppa. Perasaanku terhadap minan memang sudah luntur, tapi aku tak tega jika harus meninggalkannya seperti ini"<br><br> "Aku egois sekali. , .  mianhae oppa. Aku hanya takut untuk sakit hati"<br><br> "jika kau sudah memutuskan untuk mencintai seseorang, kau juga harus siap untuk merasakan sakit hati hye, sepertinya itu terlihat lebih adil " il woo meraih bahuku yang masih bergetar dan memeluknya. Arah pandangku masih lurus menatap kedepan. Menyelami bekas jejak langkah  minhwan yang sudah menghilang.<br><br><br>To Be Continue__<br>
]]>
</description>
<link>https://ameblo.jp/shinjikyo/entry-11166536956.html</link>
<pubDate>Thu, 16 Feb 2012 14:59:14 +0900</pubDate>
</item>
<item>
<title>Choccolatte</title>
<description>
<![CDATA[ <a href="http://stat.ameba.jp/user_images/20120109/23/shinjikyo/88/ca/j/o0640048011726353341.jpg"><img src="https://stat.ameba.jp/user_images/20120109/23/shinjikyo/88/ca/j/t02200165_0640048011726353341.jpg" alt="$shin ji kyoのブログ" border="0"></a><br><br><br><a href="http://stat.ameba.jp/user_images/20120109/23/shinjikyo/15/e4/j/o0640048011726353340.jpg"><img src="https://stat.ameba.jp/user_images/20120109/23/shinjikyo/15/e4/j/t02200165_0640048011726353340.jpg" alt="$shin ji kyoのブログ" border="0"></a><br><br>made from the original choccolatte^^<br> <br><br>2 seeds: Rp. 3.000,00<br>3 seeds: Rp. 4.500,00<br><br><br>Contact person:<br>Phone: +62856 48497688<br>       +6231 8419644<br>Email: mylooncakez@yahoo.com
]]>
</description>
<link>https://ameblo.jp/shinjikyo/entry-11131596839.html</link>
<pubDate>Mon, 09 Jan 2012 23:48:50 +0900</pubDate>
</item>
<item>
<title>Purp's Hanbok</title>
<description>
<![CDATA[ <font size="3">Hanbok For this Week<strong></strong></font><br><br><a href="http://stat.ameba.jp/user_images/20120104/14/shinjikyo/96/ec/j/o0480064011715049943.jpg"><img src="https://stat.ameba.jp/user_images/20120104/14/shinjikyo/96/ec/j/t02200293_0480064011715049943.jpg" alt="$shin ji kyoのブログ-Hanbok" border="0"></a><br>bahan yang digunakan : duchess yang dipadu dengan bahan satin jepang,<br>使用材料：ダッチェスサテン日本との組み合わせ<br>사용 재료 : 공작 부인 공단 일본과 함께<br><br>IDR: Rp. 550.000<br><br>Contact Person:<br>Jl. Jagir Wonokromo No.248<br>Surabaya - Jawa Timur, INDONESIA<br>call: +62856 4849 7688<br>      +6231 8419644
]]>
</description>
<link>https://ameblo.jp/shinjikyo/entry-11126380484.html</link>
<pubDate>Wed, 04 Jan 2012 14:07:46 +0900</pubDate>
</item>
<item>
<title>FF : Caramel Machiatto (Oneshoot)</title>
<description>
<![CDATA[ Tittle: caramel machiatto<br> Genre: romance<br> Rating: PG 13<br> Cast:<br> -choi jonghun<br> -naomi ken (Oc)<br> -ken soo ra (Oc)<br><br><em> Don't never leave me girl<br> I need you inside my world<br> I can't go a day without you<br> And see nobody else will ever do<br> I would never feel like I feel with you<br> #Suffocate (junsu ft<br> jaypark cover)</em><br><br> ~~~~~~<br><br> Ting~<br><br> jung jari telunjuknya kembali menekan satu tuts piano yang tampak berdebu karna lama tersimpan didalam gudang. suaranya terdengar sumbang seperti besi aus yang kurang sempurna saat bergesekan mengeluarkan suara. Ia berhenti sejenak. Menyelami suara denting piano yang dihasilkannya. Semua memori dimasa lalu seperti kembali mendatanginya.<br>ruang musik yang begitu nyaman. Pigura para pianist, beberapa piagam dan sedikit torehan biografi menempel sempurna di dinding. Miniatur pentagram berjajar berfungsi sebagai hiasan gantung di sudut ruangan. Rak buku berisi lembaran not balok kembali tersusun rapi ditempatnya. Semua tampak sempurna menata kembali ruang musik yang menjadi tempat kegemarannya di gedung universitas ini. Tidak lupa seorang gadis akan selalu meletakkan segelas minuman hangat diatas badan piano.<br>"hangat" hanya itu yang selalu dilontarkannya ketika menyesap minuman hangat yang diberikan sang gadis. Masih terekam jelas oleh memorinya ketika sang gadis selalu tersenyum saat ia berpendapat tentang minumannya.<br><br> Ting~<br><br>Jonghun. Pria bernama choi jonghun itu kembali menarikan jarinya sedikit bergeser dari posisi awal. Sumbang kembali terdengar. Ia menyerah, dan meraih gelas minuman yang ada diatas badan piano bercat putih bersih itu lalu meminumnya.<br><br> 'masih hangat' batinnya.<br>Kembali teringat akan senyuman khas yang selalu membekas seiring memorinya kembali kedunia nyata, kembali ke masa sekarang dimana ia hanya mendapatkan rasa hangat tanpa senyuman. Semuanya memudar, berputar begitu cepat mengganti wallpaper dinding yang semula memiliki corak kini berubah menjadi kertas kertas buram yang sudah mengelupas. Pigura dan perabot lainnya perlahan memudar menghilang satu demi satu kembali seperti semula saat ia pertama kali datang. Tersadar akan semua yang dialaminya hanyalah fatamorgana belaka, ia berhenti memainkan tuts piano dan memilih untuk pergi dari tempat itu. Hanya menyisakan piano tua, kursi kayu dan segelas caramel machiatto ditengah kesunyian malam. <br><br> ~~~~<br><br> <strong>Jonghun POV</strong><br><br> Kini aku hanya bisa memandang potret dirinya lewat sebingkai foto yang tersimpan rapi dilaci meja kamarku. Gadis berdarah jepang itu meninggalkanku karna penyakit HIV yang bersarang ditubuhnya. Aku merindukannya. Sangat merindukannya. Aku ingin bermain piano lagi dengannya. Aku ingin ia membawakan caramel machiatto lagi untukku. Minuman khas buatan Naomi bersama neneknya itu sudah mencuri perhatianku. Aku ingin melihat dirinya. Aku ingin melihat tawanya. Aku merindukannya. Aku merindukan naomi yang sudah pergi jauh meninggalkanku.<br><br> Kuusap fotonya menggunakan telunjukku. Menelusuri betapa ia begitu banyak menyimpan kenangan yang sulit dihapus dari ingatanku.<br><br> "kau merindukan gadis itu" sebuah suara mengembalikan seluruh kesadaranku kedalam dunia nyata.<br>"noona" seruku. Kakakku tiba tiba sudah berdiri dibelakangku selama aku memandangi foto gadisku. Dia mengangkat alis menatapku seperti menunggu jawaban. Bohong jika aku mengatakan tidak, ia pasti akan langsung bisa menebak. Jadi aku mengangguk karena memang aku merindukan naomi, kekasihku. Ah, tidak. Mantan kekasihku. Min sae noona bergidik mengangkat bahu lalu beranjak naik keranjangku.<br><br> "Bagaimana vancouver?? Sepertinya menyenangkan" ia bertanya mengalihkan topik pembicaraan semula. Diambilnya game portable milikku lalu memainkannya.<br><br> "Nothing special" jawabku singkat.<br><br> "kuliahmu" tanyanya lagi.<br><br> "Aku baru saja menyelesaikan 2 tahun masa kuliahku disana sebelum skripsi. Then I'v got to hurry up get back here. I love to stay in Korean then anywhere places in the world" min sae noona sesekali mengangguk seolah mengerti.<br>Setahun setelah pertemuanku dengan naomi di awal masuk universitas. Aku memutuskan untuk meninggalkan korea dan melanjutkan kuliahku di kanada. Bersamaan dengannya yang meninggalku aku memilih pergi dan mencoba melupakannya. This is just because I love her too much. Namun kenyataannya, aku lebih merindukan sosoknya ketika kembali kesini tanpa bisa menyembuhkan pahit di hatiku atas kepergiannya.<br><br> "Sepertinya, gadis gadis disana sangat menarik. aku tidak akan bertanya tentang urusan asmaramu, jika kau tidak ingin menceritakannya sendiri" ujar min sae noona. Ia lebih peka terhadap perasaanku. Ia sadar karna aku terus memandang potret naomi tanpa mengalihkan mataku saat ia berbicara.<br><br> "nothing" <br><br> "hanya itu?" alisnya terangkat. Aku mengangguk mengiyakan. Memang tidak semudah itu membuatku melupakan naomi, sekalipun gadis gadis latin itu memang sangat menarik.<br><br> Min sae noona beranjak dari ranjang dan menghampiriku.<br><br> "kau butuh refreshing jonghun-ah, hongki dan yang lainnya pasti senang melihatmu kembali pulang" kuraih game portable yang disodorkannya padaku.<br><br> "I hope so" Timpalku. Ia meraih pigura ditanganku. Tatapannya seperti menimang nimang saat melihat potret seorang gadis didalamnya.<br><br> "Cantik, masih tetap cantik" pendapatnya.<br><br> "I'm never get wrong about my choice huh??" banggaku sedikit menyombongkan diri.<br><br> "tapi sepertinya sudah saatnya kau membuka hatimu untuk wanita lain. Mungkin memang sulit, tapi aku yakin kau pasti bisa" ujarnya mengacak acak rambutku. Diletakannya kembali pigura tersebut keatas meja. Min sae Noona beranjak keluar dari kamarku setelah memastikan keadaanku baik baik saja.<br><br> "hubungi hongki dan yang lainnya, jangan sia siakan waktumu disini sebelum kau kembali ke kanada. Arraseo" ingatnya padaku. Aku hanya tersenyum sekilas menanggapi, bersamaan saat ia menutup pintu kamar. Entahlah, apa pilihanku untuk kembali kesini tepat atau tidak. Membuka hatiku untuk wanita lain, tidak menyia nyiakan waktuku dan menghabiskannya hanya untuk meratapi rasa pahit kehilangan gadis yang sempat mengisi hatiku. Pikiran itu seolah olah memenuhi otakku. Jika memang begitu, aku akan mencobanya meski terasa sulit.<br><br><br>Author POV<br><br> Ting ting~<br><br>Lagi lagi pria itu menarikan jari jarinya diatas tuts piano. Keramaian diluar ruangan serta aktivitas disekitar kampus seolah tidak dapat mengusik kegiatannya. Kembali berhadapan dengan benda tua yang katanya sudah tidak ada seorangpun yang mau menyentuhnya sejak setahun yang lalu. Entah apa yang menyebabkan mereka meninggalkan ruangan ini dan memilih ruang musik baru ditempat lain.<br> "silahkan, caramel machiatto untukmu" suara yang sudah sangat dikenalnya tiba tiba sudah berada disampingnya, hampir bersamaan saat ia menekan satu tuts piano dengan ibu jarinya. Jonghun menatap gadis disampingnya. Tidak ada yang berubah. Tetap cantik, Masih sama seperti saat pertama kali mereka bertemu ditempat ini. Detak janjungnya bergerak lebih cepat. Diafragmanya seolah tertahan oleh nafasnya sendiri melihat senyuman dari gadis itu.<br> "Naomi" jonghun berusaha keras mengeluarkan suaranya. Tangannya bergerak ingin mengusap pipi pemilik senyuman itu meski pandangannya sedikit terasa buram. ia berharap ini bukan mimpi semata.<br> "masih hangat, kau harus menghabiskan minuman ini dan memainkan satu lagu untukku, kau mau??" serasa ada dinding pembatas yang menghalangi suara dan jarak pandangnya. jonghun segera tersadar ketika merasakan sesuatu menyentuh bahunya. Gadis itu menyandarkan kepalanya dibahu jonghun.<br> "aku ingin mendengarnya" lagi lagi gadis itu berucap. Jonghun beringsut memposisikan dirinya dan mulai menekan nekan tuts piano mengikuti naluri bermusiknya.<br> (Dengerin aja johan pachelbell yang s canon in D -tp bukan yang music box &gt;<d- biar lebih berasa )<br /> Dentingan terakhir menguap bersamaan dengan perasaan hampa yang kembali menyelimuti dirinya. Sosok itu telah menghilang saat jonghun melempar pandangannya ke samping. Bahunya kembali terasa ringan. Semua halusinasi bermain rapi didalam benaknya. Matanya bergerak kearah gelas diatas piano yang Hanya menyisakan seperempat dari isi gelas. Ia bahkan lupa apakah minuman itu memang dia yang membawanya atau berasal dari dimensi lain yang baru saja dialaminya. Butuh waktu untuk jonghun bisa mempercayai kehadiran gadis itu sesaat yang lalu. <br> "tetap hangat" gumamnya saat meraih gelas tersebut lalu mendekatkan kehidungnya agar bisa menghirup aroma caramel.<br><br> "hyuuung~" lengkingan seseorang membuyarkan lamunannya. Jonghun cepat menoleh kearah datangnya suara yang berasal dari pintu masuk. Seorang pria kurus langsung menghampiri dan memeluknya.<br> "aigoo~ kenapa tidak memberitahu kami jika kau kembali ke korea hyung" tandas pria bertubuh kurus itu. Jonghun tertawa tipis menanggapi.<br> "kau sendirian jaejin-ah?" jonghun melempar pandangan ke belakang jaejin, lalu memastikan tidak melihat ada orang lain disana.<br> "kenapa? Kau mencari kekasihmu" jaejin memainkan 2 jarinya keatas kepala membentuk tanda kutip. Jonghun mengerutkan dahinya.<br> "hey lee jaejin, tunggu, untuk apa masuk ke. . ,sini" suaranya terputus mendapati seseorang didalam ruangan tersebut menatap kearahnya.<br> "k Kau. . . Jonghun, kau choi jonghun, Benarkah?? Kau ada disini?" tunjuknya masih tidak percaya.<br> "lee hongki" jonghun membuka suara. Pria bernama lee hongki itu semakin membulatkan bibirnya karna terkejut. Sedetik kemudian ia tersadar dan memburu ke arah jonghun, sahabat lamanya.<br> "ya~ bagaimana bisa kalian tahu aku ada di sini?" tanya jonghun setelah hongki melepas pelukannya.<br> "kau yang salah hyung, bagaimana mungkin malah noona yang memberitahu kami jika kau kembali ke korea. Memangnya kau sudah lupa pada kami??" jaejin memprotes. <br> "tidak, aku masih ingat kalian. Buktinya sekarang aku masih datang kesini meskipun bukan tercatat sebagai mahasiswa" jonghun terkekeh. Hongki yang sedari tadi masih shock atas kedatangan jonghun tiba tiba memukul kepala jaejin tanpa ijin.<br> "Kenapa tidak bilang dari awal kalau jonghun disini, menyebalkan" jaejin meringis menerima perlakuan hongki.<br> "Haiish~ memukul sembarangan, masih untung aku bisa menarikmu kesini hyung" jaejin menatap skeptis kearah hongki yang lebih tua setahun darinya. Larut dalam candaan membuat jonghun terlupa akan semua kilasan memori yang sempat menyesakkan dadanya beberapa menit yang lalu. Bias kebahagiaan dari bola mata hitam seorang gadis lembut ikut menyaksikan kehangatan mereka Tanpa mereka sadari.<br> ~~~~~~~<br><br> Jonghun POV<br><br> Langkah Kakiku kembali menyusuri jalanan yang sudah 2 tahun ini tidak pernah kulewati. Jalanan menuju tempat tinggal gadis itu, naomi ken.<br>Aku berhenti didepan sebuah kedai sederhana yang jauh dari kesan mewah. Aku tidak bermaksud membuat diriku sendiri terperangkap dalam kesedihan karna tahu tidak akan pernah lagi menemukan sosoknya disana.<br><br> "anak muda, duduklah jika ingin memesan sesuatu" seorang wanita tua renta menepuk lenganku dan membuyarkan lamunanku. aku menurut ketika ia menggiringku duduk.<br> "annyeong halmeoni" sapaku, tersenyum kearahnya. Ia hanya menatapku lama tanpa berkedip. Keriput di wajahnya semakin tampak jelas menghias wajahnya. Apa dia masih mengenaliku? Kuharap begitu.<br> "kau. . ."<br> "yea~ are still remember me?" aku keceplosan menggunakan bahasa inggris saat bertanya.<br> "maksudku, apa halmeoni masih mengingatku?" buru buru kuralat ucapanku saat matanya menyipit. Aku tersenyum saat ia mulai paham akan pertanyaanku.<br> "kau. . . Kau tampan sekali, siapa namamu anak muda" ia bertanya. Ekspresiku berubah seketika menyadari jika ia memang sudah melupakanku.<br> "jonghun, choi jonghun" kataku lirih. Tidak berharap ia akan mengingat namaku karna aku hanyalah tamu biasa di kedainya.<br> "anak muda yang tampan, semoga keberuntungan selalu menyertaimu jonghun-sshi. Akan ku berikan semangkuk ramyun gratis untukmu" ia bangkit dari duduknya hendak pergi, namun tanganku bergerak cepat menahannya.<br> "halmeoni, bisa aku memesan caramel machiatto" kataku. Ia menoleh cepat kearahku. Sekian detik lamanya kami hanya saling memandang satu sama lain. Ia seperti berusaha menyelami kalimatku, sebab caramel machiatto tidak ada dalam menu yang tertempel di sudut dinding.<br><br><br> Author POV<br><br> Jonghun segera menarik tangannya dari lengan wanita tua itu dan membiarkannya berjalan masuk. Sesuai pesanannya, ia hanya duduk diam menunggu caramel machiattonya tersaji.<br><br> Wajah keriputnya kembali bergerak turun mengguratkan kesedihan. Sekilas nenek itu dapat melihat jonghun yang masih menunggu diluar, dari celah pintu tempatnya biasa membuat makanan.<br> 'Dia masih ingat minuman ini. kasihan sekali kau anak muda. Jika saja cucuku masih ada, dia akan senang sekali melihatmu ada disini'<br> Wanita tua itu kembali dengan nampan berisi segelas caramel dan mangkuk ramyun gratis untuk jonghun.<br> Pria itu kembali menghirup aroma minuman dari asap yang keluar dari dalam gelas.<br> "kau suka?" tanya wanita tua itu.<br> "ne~ aku sangat suka caramel buatanmu" <br><br> "habiskan, jika kau mau aku bisa membuatkannya lagi untukmu" jonghun tersenyum menanggapi. Ia bisa melihat sedikit genangan dipelupuk mata wanita itu. Tidak tahu apa yang sedang mengganggu pikirannya saat ini. Sedikit demi sedikit jonghun membiarkan cairan kental itu melewati tenggorokannya. Rasanya tidak jauh berbeda seperti dulu ketika gadis itu sering membawakannya.<br> "Jonghun-sshi Maaf aku melupakanmu. ternyata kau masih sama seperti dulu saat cucuku membawamu kemari, hanya saja kau jauh lebih tampan sekarang" ujar nenek itu. Jonghun menghentikan kegiatannya. Sejurus kemudian ia tersenyum senang karna ternyata wanita itu tidak melupakannya.<br> "gomabseumnida" jonghun mengangguk sopan.<br> "jika cucuku masih ada, dia pasti akan sangat senang melihatmu disini. Aku sering merasa iri dan bosan jika mendengar semua ceritanya tentangmu, tapi aku tidak akan pernah bisa menghentikannya berbicara. Haha" wanita itu tertawa renta, suaranya parau termakan usianya yang lebih dari setengah abad.<br> "benarkah" jonghun mencoba ikut tertawa.<br> "sekarang dia sudah pergi, tapi aku selalu merasa dia masih ada disampingku dan selalu menemaniku saat tidur" senyum diwajahnya kembali memudar.<br> "ah. . .tunggu sebentar" wanita tua itu lantas masuk kedalam. Beberapa menit kemudian ia keluar sambil menenteng lembaran kertas ditangannya.<br><br> "naomi bilang kau pintar bermain piano. bawa Ini anak muda, dulu cucuku sering sekali menulisnya dan ingin kau menyanyikannya dengan piano. Tapi aku tidak paham, jadi untukmu saja. Bawalah" jonghun menerima beberapa lembaran kertas yang mulai menguning berisi not not balok. Tentu saja ia paham.<br><br> "besok aku ingin berdoa untuk cucuku, kau mau ikut denganku" tawar wanita itu. Jonghun berpikir serta menimang nimang untuk beberapa saat. Apa dia bisa kembali 'bertemu' dengan naomi. Apa dia kuat, dia sendiripun belum yakin.<br><br> "aniyo, aku pergi sendiri saja" ia menggeleng pelan.<br><br><br> Selesai menenggak caramel terakhirnya jonghun pamit dan segera meninggalkan kedai tersebut.<br><br> Bruukk~<br><br> Bahunya ditabrak seseorang. Kertas ditangannya berhamburan bercampur dengan buku buku milik wanita yang tadi menabraknya. <br><br> jonghun memandang wajah gadis itu. kini otaknya bekerja lebih keras dari sebelumnya.<br><br> "mianhaeyo" gadis itu meminta maaf namun terkesan dingin. Sama sekali tidak ada ekspresi diwajahnya. Jonghun tertegun saat memandang wajah yang selama ini terbayang diotaknya.<br><br> "nay" tanpa sadar ia menyebut panggilan kecil kekasihnya dulu saat naomi masih hidup. <br><br> "ini, milikmu" gadis itu memberikan kertas yang dirasa bukan miliknya, kehadapan jonghun. Seolah terhipnotis oleh wajahnya, butuh waktu lama bagi jonghun untuk bisa menerima kertas kertas yang disodorkan gadis itu. Sesaat mereka berpisah. Gadis itu pergi begitu saja tanpa berkata apa apa lagi.<br><br> ~~~~<br><br> Jonghun POV<br><br> "jonghun-ah kau benar akan kembali ke kanada??" tanya hongki.<br><br> "of course, hanya sampai aku bisa menyelesaikan skripsiku. Then I'd like to get back here, kenapa? Kau sedih aku pergi lagi" hongki memutar bola matanya membuatku terkekeh.<br><br> "cih, percaya dirimu tidak pernah hilang ternyata" cibirnya.<br> "aku masih ada kelas 15 menit lagi, setelah ini kau mau kemana" hongki bertanya padaku.<br><br> "ke ruang musik" jawabku singkat. Ia pasti mengerti semua cerita tentangku dan naomi. Bahkan ia selalu menggoda naomi jika gadis itu mulai terlihat murung atau kesal saat kami berkumpul.<br><br> "kau belum bisa melupakannya?? Sekalipun ruangan itu tidak pernah terpakai dan berdebu. Kau masih ingin kesana" ucapan hongki terkesan ambigu ditelingaku. Aku tak mengerti, apakah mendatangi ruangan itu adalah keinginanku sendiri atau sekedar syarat bahwa aku tidak pernah melupakan tempat itu sebagai saksi kenanganku bersama naomi. <br><br> "arraseo~ pergilah, aku tidak akan mengganggumu disana, kka~"<br><br> "hyuung~" aku bergelayut manja menarik narik lengan hongki, berniat ingin menggodanya.<br><br> "haiish~ jangan memanggilku hyung seperti itu, rasanya aku terlihat tua sekali darimu" hongki mendesis kesal. Usianya hanya terpaut beberapa hari dariku. Kami sepakat untuk tidak ada sebutan hyung atau dongsaeng diantara kami<br><br> "memang kenyataannya kau lebih tua dariku kan, hanya kelakuanmu saja yang seperti bayi tabung"<br><br> "mwoo!!" hongki melotot kearahku.<br> "Cepat pergi atau kau ingin aku mencincang tanganmu agar tidak bisa bermain piano lagi huh" ancamnya, seraya memukul lenganku dengan tas slempangnya.<br><br> "menakutkan, ya sudahlah, jalga" pamitku. Aku melangkah pergi meninggalkan hongki yang sudah sampai didepan ruang kuliahnya.<br><br> partitur. Aku biasa menyebut seperti itu untuk kertas kertas bertuliskan not balok yang nantinya bisa menjadi alunan lagu atau instrumen yang indah untuk dimainkan oleh alat musik.<br><br> Aku meniup jajaran tuts piano yang tampak berdebu. Selalu seperti ini yang kulakukan sebelum kembali menarikan jari jariku diatas tuts piano. Sejenak aku terbuai sendiri oleh permainanku. Sama seperti saat pertama aku kemari sepulang dari vancouver. Memoriku kembali berputar menata kembali gambaran sudut sudut ruang musik yang penuh oleh kesibukan. Dimensi lain yang kini ada didepan mataku sangat begitu jelas terekam. De javu, mungkinkah aku mengalami pengulangan kejadian dibawah alam sadarku??<br><br> Entahlah. Aku kembali melihat pentagram yang sama disudut ruangan masih berfungsi sebagai hiasan. Kelupasan dinding kembali menempel dan tampak berwarna oleh motif wallpaper. Semua bergerak sangat cepat seiring dentingan piano yang kumainkan. Lagu ini, naomi yang membuatnya. Apa dia juga mendengarnya, karna sekarang aku bermain disini untuknya.<br><br> ~~~~~~~<br><br> Author POV<br><br> Jonghun berhenti didepan kedai sederhana. Tampak sepi.<br> 'kemana halmeoni' pikirnya. Namun ia teringat sesuatu tentang percakapannya kemarin. Ia memilih pergi dari sana karena tahu wanita tua itu pasti sedang pergi untuk mendoakan cucunya. Tidak sebentar waktu yang dibutuhkan untuk berdoa dan menghormati orang yang sudah meninggal.jadi ia memilih untuk pergi<br><br><br> Bruuk~<br><br> Jonghun beringsut karna tabrakan seseorang ditubuhnya.<br><br> "I'm sorry" sesalnya.<br><br> "kau lagi . . .tsk" decak gadis itu, memunguti buku bukunya. lalu beranjak pergi meninggalkan jonghun.<br><br><br> ~~~<br> Jonghun sedikit mempercepat langkah kakinya saat mendung mulai menghiasi langit seoul. Dilihatnya gadis yang sama seperti kemarin kembali berjalan menunduk seolah sibuk dengan buku buku ditangannya. Hampir saja mereka kembali bertabrakan jika saja jonghun tidak berusaha menghindar.<br><br> "hey~" jonghun memanggil. Gadis itu menoleh cepat masih dengan ekspresi dinginnya.<br><br> "don't you see this way when you walking out. Apa kacamatamu tidak berfungsi dengan baik" jonghun sedikit kesal.<br><br> "pria ini lagi" desis gadis itu melirik tajam kearah jonghun.<br><br> "aku tidak ada urusan denganmu, aku harus pergi" ujarnya lalu berjalan menjauh.<br><br> "ya~"<br><br> ~~~~~<br><br> Cciiit. , . . .gabruuk (?)<br><br> Jalanan menurun membuatnya hilang keseimbangan saat mengendarai sepeda. Masih di area yang sama seperti kemarin kemarin, gadis itu lagi lagi menabrak jonghun tanpa bisa dihindari, kali ini sedikit lebih parah. Sepedanya menabrak jonghun hingga membuatnya terjerembab ke samping. Sedang gadis itu oleh kearah yang berlawanan dengan posisi jonghun. <br><br> "eegkh" jonghun mengerang kesakitan disekujur pergelangan tangan kanannya akibat menumpu beban tubuhnya sendiri.<br><br> "kau. . . .kenapa harus kau lagi" gadis itu menyemburnya dengan tatapan tajam namun kesakitan. Tulang hidungnya memerah, sementara lututnya memar tergores oleh aspal.<br><br> "Don't try to blame me about this, this is just b'cuz of you never know how the way yu'v got to walk away, kau mengerti" jonghun sedikit meninggikan suaranya setelah berucap panjang lebar menggunakan bahasa inggrisnya.<br><br> "Bicara apa kau ini, menyebalkan" balas gadis itu seraya mencoba bangkit. Jonghun pergi meninggalkan gadis itu begitu saja. Tangannya mulai mati rasa saat ia mencoba menggoyang goyangkannya.<br><br> ~~~~~<br><br> Sebelum minggu depan ia kembali ke kanada, jonghun kembali mendatangi ruang musik universitas kyunggi.<br><br> "mianhae, hari ini aku tidak bisa bermain untukmu" gumam jonghun, memandang tangan kanannya yang terbalut kain kassa sedikit tebal. Ia sedikit menggeser kursi kayu dan memilih tetap berdiri didepan piano. Tangan kirinya bergerak menelusuri tuts tuts piano yang berdebu.<br><br> Ting<br><br> Jarinya terhenti Dan menekan satu tuts nada. Suara yang dihasilkan sudah jauh lebih baik dari saat pertama ia datang kemari.<br><br> Ting ting~<br><br> Ia terus menekan. Entah membentuk instrumen seperti apa, dia pun juga tidak tahu.<br><br> "untukmu, masih hangat" seseorang tiba tiba berdiri disamping jonghun. Dari ekor matanya pria itu dapat melihat tangan ramping itu mengulurkan gelas kearahnya. Ia mendongak.<br><br> "kau. . ." jonghun terkejut menyadari siapa gadis itu.<br><br> "tanganmu, apa lukanya parah??" gadis itu melirik tangan jonghun.<br><br> "Never mind" timpal jonghun cuek. Ia bahkan sudah tidak mempermasalahkan lagi kejadian kemarin. Ada rasa penasaran saat gadis itu tiba tiba datang. Jonghun menarik kursinya kembali seperti semula lantas mendudukinya.<br><br> "Milikmu, ikut terbawa 2 hari lalu saat kau menabrakku" ujar gadis itu. kertas partitur yang sudah menguning. Jonghun meraihnya. Kejanggalan atas akhir not balok yang dibuat naomi memang bukan tanpa alasan. Ia sadar jika kemarin itu ia merasa kurang sempurna atas lagu yang dimainkannya.<br><br> "Me?? doesn't it's you to hit me?, why you'v to say as like as I do it to you. . . "<br><br> "jangan berbicara dengan bahasa inggris seperti itu, aku tahu kau bisa berbahasa korea" tandasnya, memotong ucapan jonghun. merasa diabaikan, Gadis itu beranjak menelusuri ruang kosong tanpa perabot tersebut, Yang dilihatnya hanya sebongkah piano putih ditengah tengah ruangan yang cukup terlihat usang dimatanya.<br><br> "Untuk apa kau berada diruangan kotor seperti ini," tanya gadis itu sambil terus melempar pandangan keseluruh penjuru ruang. Jonghun tidak menjawab. Ia masih menekan tuts piano mengikuti not balok yang baru didapatnya dari gadis itu.<br><br> "mianhae" gadis itu mengulurkan tangannya ketika duduk disebelah jonghun. Tidak ada respon, pria itu tetap bersikap acuh. Karena kesal diabaikan, gadis tersebut menekan tuts piano sembarangan. Kali ini pandangan jonghun beralih kearahnya. Gadis itu meraih minuman yang tadi sempat dibiarkan diatas piano lalu menyodorkannya kedepan wajah pria berhidung indah itu.<br><br> "ini sebagai permintaan maafku. Kau harus menghabiskannya selagi coklat ini masih hangat" jonghun termangu beberapa saat. Logat berbicara yang sangat familiar baginya, tapi ia sadar gadis itu bukan naomi. Matanya memandang gadis itu dan gelasnya secara bergantian. Ia memutuskan untuk mengambilnya.<br><br> "Siapa namamu"<br><br> " hyemi, ken hyemi" jelas gadis itu membuat jonghun menatapnya untuk beberapa saat. <br><br> "kau orang jepang" gadis itu menggeleng kuat.<br><br> "aku lahir dan dibesarkan di korea" timpalnya. Jonghun mengangguk mengerti dan kembali menekan nekan tuts.<br><br> "kau suka bermain dengan benda ini"<br><br> "Yes, of course" lagi lagi hyemi terlihat kesal saat pria itu menjawab dengan bahasa inggris.<br> "namun selama di vancouver aku tidak pernah menyentuh piano sama sekali" hyemi mengerutkan keningnya seolah bertanya. Tapi pria itu justru mengulurkan tangannya.<br><br> "jonghun, panggil aku jonghun" ujarnya memperkenalkan diri. Hyemi menyambut tangannya.<br><br> "gomawo, sudah mengembalikan milikku" ujar jonghun mengangkat partiturnya.<br> "kau mahasiswi disini?" Hyemi tersenyum dan mengangguk mengiyakan.<br><br> 'Senyuman itu, senyuman yang selalu ingin kulihat. Bagaimana bisa ia tampak begitu mirip dengannya, sadarlah jonghun, dia bukan naomi'<br><br> Denting piano kembali mengalun. Semakin lama semakin jelas terdengar membuat ruangan serasa dipenuhi oleh kebisingan suaranya. Jonghun menggabungkan not balok yang ditulis naomi dengan partitur yang baru didapatnya.<br><br> Hyemi tiba tiba berjingkat dari duduknya disamping jonghun.<br><br> "berhenti" ujarnya.<br> "berhenti bermain jonghun-sshi" <br><br> Jonghun menurut dan menghentikan permainan musiknya.<br><br> "wae?" hyemi langsung berlari keluar ruangan meninggalkan jonghun. Pria itu semakin tidak mengerti saat melihat hyemi berlari dengan bercucuran air mata <br><br> ~~~~~~~<br><br> Berhenti, berhenti memainkannya, aku tidak ingin mendengarnya. Musik itu, nadanya, suaranya aku masih bisa mengingatnya dengan jelas. Aku masih hafal bagaimana ibu selalu bersenandung sebelum kami pergi tidur. Hentikan,aku tidak ingin mendengarnya lagi. Itu sama saja membuatku teringat oleh mereka, ibu, ayah, adikku. . . Orang orang yang kusayangi telah pergi meninggalkanku. Aku tidak ingin mendengar dan mengulang kesedihanku. karna Aku sudah berjanji untuk tidak menangis lagi.<br><br> ~~~~~~<br><br> Jonghun POV<br><br> 5 hari berlalu. Rasa penasaranku akan gadis itu kian membesar. Tapi aku tidak pernah bertemu dengannya lagi semenjak hari itu. Hyemi, Gadis berkacamata itu sudah membuat otakku serasa dihantui olehnya.<br><br> Kuputuskan untuk menunggunya ditempat saat ia menabrakku pertama kalinya. Tidak jauh dari kedai milik nenek naomi.<br><br> 1 jam<br> 2 jam. . .<br> 3 jam. . .<br><br> Sudah lebih dari 3jam aku menunggunya. Putus asa mulai merasuk kedalam tubuhku, lelah menunggu, dan lelah jika harus terus bertanya tanya, berperang dengan presepsiku sendiri.<br><br> "eoh, hyemi" gumamku lirih. saat melihatnya berjalan menunduk beberapa meter tidak jauh dariku. Ia mendongak menyadari sosokku ada disana, lantas berbalik memutar tubuhnya.<br><br> "tunggu" aku menahan tangannya.<br><br> "Why,.,,. are you avoiding me??" tanyaku. <br> "kau menghindar dariku karna aku memainkan lagu itu??"<br><br> "tidak ada urusannya denganmu"<br><br> "ada" potongku cepat. Hyemi berbalik menatapku.<br> "itu lagu yang dibuat oleh kekasihku, maksudku, mantan kekasih, tapi kau menyuruhku berhenti memainkannya saat ditengah tengah" ia semakin tajam menatapku. Matanya mulai tampak berkaca kaca. Semoga ini bukan karna cengkramanku yang terlalu kuat.<br><br> "lalu, kenapa kau menurutinya"<br><br> "bagaimana aku tidak menurutimu, jika kau membentak dan menangis seperti kemarin" dalihku. Hyemi menghentakkan tangannya hingga terlepas dari cengkramanku. Ia berjalan cepat meninggalkanku.<br>pikiranku kacau antara penasaran dan rasa bersalah karna terlalu memaksa gadis itu mengakui sesuatu yang sebenarnya aku sendiri tidak tahu apa itu. Aku memilih kembali datang ke ruang musik untuk terakhir kalinya. Besok aku harus bersiap siap untuk kembali ke kanada esok lusa.<br><br> 'hangat, minuman ini masih hangat' kuhirup aromanya kuat kuat dari asap yang mengepul. Minuman bercaramel itu kembali menemaniku. Malam kian menanjak menggantung cahaya bulan. Ruangan musik benar benar tampak gelap. Kunyalakan saklar yang masih memfungsikan 2 lampu di sudut ruangan menyala, memberi sedikit penerangan. <br><br> Krieet~<br><br> Suara kursi kayu berdecit menahan beban tubuhku saat aku mendudukinya. Aku ragu untuk meletakkan jariku diatas tuts piano seperti biasanya.<br><br> "jonghun-ah,,aku membawakanmu minuman hangat, cepat habiskan" serunya. Samar samar telingaku mendengar kalimat itu berdengung disekitarku.<br><br> "mainkan untukku sekarang juga jonghun-ah. Atau kau mau aku bermain bersamamu" ujarnya lagi. Halusinasiku bermain lincah. Pandanganku memburam seiring suaranya yang seolah mengajakku berbicara. Ruangan ini masih remang remang. Aku tidak bisa melihat dengan jelas dimana letak pintu keluar masuknya.<br><br> "hahaha, kau lupa nadanya, sini, biar aku yang main" <br><br> Jari jarinya menari lincah menekan tuts piano hingga menghasilkan instrumen yang cukup ku kenal.<br><br> "ini, lagu ini, musik ini yang dibuat oleh naomi, akh" aku menggelengkan kepalaku berharap penglihatanku kembali normal.<br><br> "jonghun-ah, cepat lanjutkan" suara itu memerintahkanku mengambil alih untuk melanjutkan permainan pianonya. Gadis itu, naomi, berjalan ke sudut ruangan dan bergerak lincah menarikan tubuhnya bersama seseorang. Dinding kembali mulus dan bermotif tertempel beberapa pigura dan potret para tokoh. Lampu hias kembali bergantung diatasku. Kesibukan dimensi lain kembali terjadi seolah berputar seiring dentingan piano yang kumainkan.<br><br> "mainkan terus jonghun-ah, aku akan menari bersamanya, dia kakakku" gadis itu tertawa sambil terus menggerakkan tubuhnya sesuai dentingan piano. Sesekali roknya yang mengembang berputar, menabrak gantungan berbandul titanium disisi rak buku.<br><br> "no. . .itu hyemi, bagaimana kau mengenalnya nay, aku bingung" kalimat itu hanya tertahan sampai batas difragmaku. Aku tidak mampu mengeluarkan suaraku.<br><br> "hahaha, dia kakakku, dia kakakku, mainkan terus lagunya, aku suka, aku suka sekali, kau juga kan, jawab aku jonghun-ah" kata katanya mengisi penuh seluruh kapasitas otakku. Pergelanganku mulai lelah. Keseleo akibat kecelakaan itu belum sembuh secara total.<br><br> "berhenti nay, berhenti, kumohon berhenti untuk menari dan menyuruhku bermain naomi" racauku lirih. Ia terus saja bergerak mengelilingiku. Kurasakan tangannya membelai punggung dan tanganku beberapa kali.<br><br> "berhenti menari, dan duduklah disampingku, kumohon" aku kembali meracau. Sementara gadis itu terus tertawa dan menari bersama orang yang disebutnya kakak itu.<br><br> Tak lama kemudian sekelilingku kembali berputar. Tubuhnya mulai tampak tembus pandang dimataku. Samar samar aku bisa melihat benda yang terhalang oleh tubuhnya. Perlahan gadis itu mulai memudar dari pandangan mataku. Berangsur angsur Menghilang bersamaan dengan lampu yang kembali meredup. Kurasakan tanganku bergerak melemah. Semakin pelan dan pelan hingga jari kelingku menekan tuts piano terakhir.<br><br><br> Aku sadar masih berada ditempat yang sama. Masih pada posisiku duduk dikursi kayu yang semakin tua. Debu debu mulai menghilang membuat cat putih piano itu tampak mengkilat.<br><br> "hyemi. . .naomi" gumamku dengan setetes keringat yang mengalir disepanjang tulang hidungku.<br><br> Sudah 3 jam sejak aku membawa minuman yang diracik oleh nenek itu tadi sore, kini sudah tidak ada asap yang mengepul. Minuman berCaramel ini mulai dingin.<br><br> ~~~~~<br><br> Author POV<br><br> Pria bertubuh tegap itu berdiri didepan bangunan sederhana bercat silver. Ia bisa datang kesini berkat bantuan nenek naomi.<br><br><br> "Hyemi-sshi" panggilnya.<br><br> "Kau, aku sudah tidak ada urusan denganmu bukan. Jadi untuk apa menemuiku" sungut hyemi dengan nada dingin. Jonghun buru buru menarik gadis itu sebelum benar benar menutup pintunya.<br><br> "Naomi, kau mengenalnya. Naomi ken itu adikmu bukan. Aku benar kan hyemi-sshi" ia membelalakkan matanya kearahku. Terkejut, sudah pasti. Tanganya terasa menegang saat kucengkeram. gadis itu menangis tanpa bisa dikontrol.<br><br> "Tolong jangan pernah menyebut namanya dihadapanku jonghun-sshi, aku sudah mencoba melupakan mereka"<br><br> "orang tuaku, adikku, kau membuatku kembali mengingatnya, kumohon, aku harus mencoba melupakan rasa rinduku terhadap mereka" hyemi semakin terisak. Bahunya bergetar membuat jonghun segera meraih tubuhnya dan mendekapnya meski sempat ragu. Sosok hyemi benar benar mewarisi sisi dari adiknya sendiri. Rasanya tidak salah jika jonghun mulai tertarik menganggap gadis itu sebagai naomi kedua baginya.<br><br><br> ~~~~~~<br><br> Selesai memeluk kedua sahabatnya, jonghun beralih memeluk kakaknya saat berdiri di pintu gate keberangkatan internasional.<br><br> "hyuung~ kau benar benar akan berangkat??" jaejin tampak berat melepas jonghun.<br><br> "hanya sampai skripsiku selesai jin, kau tenang saja, setelah itu aku akan kembali kesini" ujar pria itu meyakinkan.<br><br> "kau seharusnya sudah masuk jong, bukankah pesawatmu boarding 30 menit lagi" minsae melirik jam ditangannya seolah memperingatkan jonghun.<br><br> "Kka. . . Berlama lama disini semakin membuatku ingin menarikmu pulang" imbuh hongki, memukul lengan jonghun dengan tinjunya pelan. Sekali lagi mereka berpelukan sebelum akhirnya jonghun melangkah pergi.<br><br> "jonghun-ah" suara yang sangat dikenalinya membuat jonghun berbalik memandang kearah sumber suara.<br><br> "kau mau pergi hh, kau. . . .mau meninggalkan kami disini huh??"<br><br> "hyemi-sshi" jonghun terkejut melihat nafas gadis itu tersengal sengal saat berbicara.<br><br> "aku masih ingin mengenalmu, aku masih ingin kau disini jonghun-ah, naomi juga, dia masih merindukanmu" jonghun tertawa kecil lalu menggeleng.<br> "tidak untuk sekarang ini nona, aku benar benar harus pergi sekarang" sempat gadis itu menggeleng agar jonghun mengurungkan niatnya. Sementara operator kembali menginformasikan beberapa pesan untuk para penumpang melalui pengeras suara. Jonghun mengeluarkan lembaran kertas dari ranselnya.<br><br> "ini, mainkan untuknya. Dia pasti senang, aku yakin kau bisa" hyemi menerima partitur yang diberikan oleh jonghun membolak baliknya sekilas.<br><br> "jalga" pamit jonghun.<br><br> "Kembalilah 6 bulan lagi. Kau harus kembali saat ulang tahun naomi 6 bulan yang akan datang. Kita bisa bermain bersama untuknya" ucapan hyemi berhasil membuat pria itu teringat akan hari ulang tahun kekasihnya, mantan kekasih lebih tepatnya. Ia mengeluarkan gelas kecil minuman bertutup dari saku tasnya. Lalu memberikannya pada hyemi.<br><br> "I wish I could do" jonghun segera berlalu. Ia segera masuk melewati petugas yang selesai memeriksanya dan melambai kearah orang orang yang mengantar kepergiannya.<br><br> "minuman apa yang diberikan jonghun untukmu itu hyemi-sshi" tanya hongki melihat hyemi menyesap minumannya dengan sedikit asap yang mengepul. Masih hangat.<br><br> "caramel machiatto"<br><br> "nde? Minuman apa itu, aku baru pertama mendengarnya" ujar min sae<br><br> "aku juga, apa itu obat" imbuh jaejin diikuti anggukan oleh hongki. Hyemi menggeleng. Melirik mereka dengan tatapan menggoda agar mereka penasaran.<br><br> "Hongki-sshi, bahasa inggrisku sangat payah, tapi aku tahu kau tidak lebih pintar dariku" ujar hyemi sambil meneguk minumannya.<br><br><br> "jadi, tolong artikan ini untukku jaejin-sshi. Aku benar benar tidak paham apa yang ditulis jonghun disana" ucapan hyemi berhasil membuat hongki ingin mencekik lehernya sendiri sementara yang lain hanya bisa terkekeh geli.<br><br> . . . .<br> . . . .<br> . . . .<br> . . . .<br> "untuk ken hyemi " jaejin mengakhiri kalimatnya setelah selesai membaca kalimat bahasa inggris yang ditulis jonghun dibelakang kertas partitur.<br><br> "nona~ kau. . .kalian pacaran?" jaejin membulatkan bibirnya.<br><br> "entahlah" singkat haemi lalu berjalan mendahului mereka sambil terus menikmati caramel machiatto pemberian jonghun.<br><br> "Tsk. . , dia lebih aneh dariku, kalian lihat, bagaimana bisa naomi memiliki kakak aneh sepertinya" komentar hongki tanpa merasa aneh jika min sae dan jaejin terus memandangnya saat pria itu banyak bicara.<br><br> "apa?? Kenapa memandangku seperti itu" hongki sadar akan sesuatu yang salah terhadap dirinya saat mereka menatapnya.<br><br> "kau juga aneh lee hongki" min sae dan jaejin tertawa meninggalkan hongki sendirian dibelakang.<br><br> "ya~" teriaknya. Satu kertas terbang melewatinya tanpa ia sadari jika itu adalah partitur awal dari tulisan not balok yang ditulis naomi.<br><br><br>_END_<br><br>
]]>
</description>
<link>https://ameblo.jp/shinjikyo/entry-11101088524.html</link>
<pubDate>Thu, 08 Dec 2011 14:08:42 +0900</pubDate>
</item>
<item>
<title>FF: Over ( Hae-Jong Moment ) &lt;3</title>
<description>
<![CDATA[ <font color="#0000FF">Tittle: Over~ Hae-Jong moment<br>Rating: PG13<br>Genre: Romance, Friendship<br>Type: SongFic<br>Cast:<br> - Choi Jonghun<br> - Shin Haebin<br> - Lee HongKi<br> - Jung SaeMi<br> - Lee Yujin<br> - Lee JaeJin</font><br><br><br><strong> Haebin POV</strong><br><br>Lima watak berbeda dipersatukan dalam sebuah ikatan persahabatan yang indah. Indah?? seperti apakah indah yang dimaksud jika masih ada pertengkaran, adu mulut atau bahkan adu fisik yang menghiasinya. Sekuat tenaga aku berlari menyusuri pinggiran kota eoul yang tampak lengang dari segala aktivitas manusianya. Malam semakin menyambut menghiasi langit seoul. Menggantung bulan seolah memfungsikannya sebagai cahaya lampu. Aku lelah, lelah untuk terus berlari.<br>"haebin-ah" teriak seseorang dari belakang. Semakin ia terus memanggilku, semakin kupercepat laju berlariku menjauhi mereka. Sakit hati, emosi kemarahan, terkejut. Iba atau apapun itu, sedang bertubi tubi mengisi ruang kosong dihatiku. Aku tahu aku tidak boleh membenci mereka, tapi ini semua membuatku ingin membenci mereka.<br> Langkahku terhenti saat aku sadar tidak lagi mengenali tempat sekarang aku berdiri. Apa aku tersesat?? Entahlah, tapi setidaknya ini lebih baik ketimbang mereka yang terus memanggilku tadi tetap mengejarku.<br> Aku ingin duduk, mengistirahatkan kakiku, bisakah?? Tapi jika aku duduk apa mereka masih tetap mengejarku, jika benar, aku pasti tertangkap oleh mereka. Tidak, aku benar lelah, lelah secara fisik dan perasaan.<br> "jahat" gumamku lirih. Aku berjongkok dipinggir jalan disamping tiang lampu. Pertahananku jebol, air mataku tumpah ruah tanpa bisa ku kontrol. Tidak kupedulikan lagi tatapan beberapa orang yang memandang aneh kearahku.<br>Tetesan air kebesaran tuhan mulai berjatuhan, perlahan namun pasti. Hujan, hujan alam ini sama saja dengan hujan air mata dipipiku. Biarlah, ini bisa membantuku menemani luluhnya air mata yang terus mengalir. Dadaku sesak, hatiku benar benar sakit saat ini. Kubenamkan wajahku diantara kedua lutut yang menekuk membiarkan hujan beramai ramai menghakimi diriku.<br> Seorang gadis dan dua orang pria menghampiriku dengan nafas tersengal sengal.<br> "haebin-ah, kau bisa sakit, ayo bangunlah" ujar gadis itu yang sangat kukenal suaranya sambil menepuk lenganku. 'Apa pedulimu' batinku kesal.<br> "haebin-ah kumohon, dengarkan dulu penjelasanku" ujar salah satu pria yang berlutut dihadapanku memegang lengan tanganku.<br> "kau salah paham, aku dan yujin tidak ada hubungan apa apa" ujarnya. Aku mendongak merasakan air hujan menusuk kornea mataku. Tubuhku sudah basah kuyub.<br> "haebin-ah, kami tidak berniat membohongimu, kami hanya perlu waktu untuk mengatakannya padamu" ujar pria satunya yang berjongkok disamping pria yang ada dihadapanku.<br> "kalian bohong" kataku lirih. Sakit hatiku benar benar tidak bisa kuredam. Aku marah, marah terhadap diriku sendiri yang tidak bisa bersikap kuat dan tegas. Aku marah atas air mata yang terus menghambur.<br> "Jonghun dan yujin tidak berniat membohongimu haebin-ah, percayalah." ucap gadis itu berusaha meyakinkanku. Pria bernama jonghun yang ada dihadapanku ini memandangku dengan tatapan memohon agar aku percaya.<br>"kita bersahabat sudah cukup lama haebin-ah, jangan gunakan emosimu untuk menghadapi masalah ini. Kumohon" lagi lagi pria bernama hongki itu menatapku dengan tatapan memohon dari mata lentiknya. Sejenak tatapannya membuatku luluh. Mereka berusaha membuatku percaya atas masalah yang menimpa hubunganku dengan jonghun.<br> "haebin-ah" panggil seorang gadis yang terduduk di kursi roda. Pria kurus dibelakangnya berdiri memegang payung untuk melindungi gadis itu, yujin.<br> <em>'apa lagi ini, jangan menatapku seperti itu, seolah akulah yang salah telah membuat kalian hujan hujanan seperti ini'</em> batinku. Aku berdiri menerobos rintik hujan yang belum mau berhenti. Kutatap yujin samar samar karena terhalang oleh air hujan. Aku berjalan menghampirinya.<br> "haebin-ah" panggil jonghun mencoba menahanku.<br> "biarkan saja jong" seru gadis bernama saemi yang pertama kali menemukanku tadi. Aku sampai didepan yujin dan berdiri mematung dihadapannya.<br> pucat, lelah, dan setitik air mata masih tergenang dipelupuk matanya.<br><em> 'kumohon jangan menatapku seperti itu, aku terlalu menyayangimu. ini semua semakin sulit membuatku untuk membencimu yujin-ah, kumohon'</em><br> "maafkan aku haebin-ah, aku yang memaksa jonghun untuk terus berada disampingku. Jangan salahkan dia, kau hanya boleh menyalahkanku"<br> Ujar yujin. Pria bernama jaejin dibelakangnya memegang pundak yujin seperti menenangkan.<br> "mianhae, jika kau pikir aku merebut kekasihmu, jeongmal mianhae"<br> Plaak~<br> Aku menampar pipinya.<br> "haebin-ah" seru mereka hampir bersamaan.<br> "Noona, kenapa menamparnya, kau menyakitinya" jaejin angkat bicara. Aku sedikit geram dengan ucapan jaejin.<br> 'jika tamparanku barusan menyakitinya, lalu bagaimana perbuatannya dengan jonghun yang juga membuatku sakit, aku tidak tega menyebut kalian egois, tapi yang kurasakan justru seperti itu'<br> "aku hanya meminta jonghun menemaniku sampai batas waktuku hae, aku senang dia bisa membuatku nyaman berada didekatnya" yujin tersenyum.<br> Plak~ <br> Lagi lagi kutampar pipinya hingga membuat kursi rodanya bergeser sedikit.<br> "Hentikan" pekik saemi.<br> "cukup, kau sudah keterlaluan haebin-ah, yujin itu sahabatmu" seru hongki yang kini berdiri disampingku dengan tatapan menghakimi.<br> "jonghun dan yujin tidak ada apa apa, mereka hanya saling dekat. Jika kau pikir yujin mencium jonghun adalah karna mereka pacaran, kau salah besar haebin-ah. Kupikir kau sudah lebih dewasa untuk bisa memahami keadaan yujin" cecar hongki yang membuatku semakin deras untuk menangis.<br> "tenanglah hong" redam yujin lemah.<br> "hyung, sebaiknya kubawa noona pulang saja, hujan semakin deras" ujar jaejin.<br> "kajja" jaejin menarik pegangan kursi roda mundur lalu berbelok dan berjalan menjauh dari temptku dan hongki berdiri. <br> 'bagus, lalu apa sekarang. Kalian mau menghakimiku atas tamparan yang kuberikan pada yujin?? Silahkan saja jika itu membuat kalian puas dan membuatku semakin merasa bersalah.<br> "haebin-ah" hongki meletakkan tangannya dipuncak kepalaku. Kuberanikan diri untuk menatap mata lentiknya yang terguyur oleh air hujan.<br>Aku sangat jahat telah membuat para sahabatku hujan hujanan seperti ini. Hongki mengerti jika aku masih menangis saat menatapnya. Diraihnya kepala serta tubuhku lalu memeluknya. Aku berharap dia mengijinkan air mataku membasahi pundaknya.<br> "gadis bodoh" rutuknya.<br> "aku benci kalian semua, kalian membohongiku, kalian puas" isakku semakin menjadi. Hongki mengeratkan dekapannya ditubuhku.<br> "kami tidak bohong hae~, emosimu terlalu cepat salah mengartikan, jonghun tetap kekasihmu, dia tetap sahabat kita, kau juga" hongki melepas pelukannya dan menatapku intens. Pandangannya beralih kearah jonghun yang masih terpaku berdiri disamping saemi. Dengan penuh keberanian kulangkahkan kakiku berjalan menghampiri mereka. <br> <em>'tatapanmu semakin membuatku tersudut, kumohon berhenti menatapku seperti itu'</em> batinku. Dengan gerakan cepat, jonghun sudah mengunci tubuhku dengan pelukannya. Hangat, setelah sekian lama aku tidak merasakan kehangatannya karna diberikan oleh yujin akhir akhir ini.Tapi  kini aku mendaptkannya kembali.<br> "sekali lagi kau bersikap bodoh, jangan harap aku mau melihatmu lagi" ujarnya masih terus memelukku.<br> "mianhae" kataku sambil terus menangis. Kurasakan tubuhku benar benar hangat ketika saemi ikut memeluk tubuhku. Hongki memutuskan untuk merentangkan tangan dan ikut memeluk tubuhku saling tumpang tindih dengan jonghun dan saemi. Dadaku sesak, tapi bukan lagi karna rasa sakit hati yang menghukum perasaanku sendiri, tapi rasa sesak yang lebih kepada perasaan berkelimpahan atas semua cinta yang diberikan oleh mereka.<br> <br><br><strong>Author POV</strong><br><br> Gadis cantik berparas pucat itu masih tetap tersenyum semenjak satu jam yang lalu. Lumpuh?? Yah, gadis itu lumpuh secara fisik dan kekebalan tubuh. Kanker hati sudah menggerogoti sebagian kinerja organ tubuhnya. Yang bisa dilakukan hanyalah duduk diatas kursi roda menikmati gemercik air danau yang ada dihadapannya sekarang ini.<br> "indah" gumamnya lirih. Lagi lagi ia tersenyum membuat garis bibirnya melengkung tipis. Ditutupnya kelopak mata mungil itu sambil menghirup udara seoul yang cukup bersahabat. Sejuk, membuat hembusan nafasnya menderu lega.<br> Dikejauhan seorang pria dan wanita berjalan saling bergandengan namun dengan langkah yang tak seirama.<br> "tunggu" seru gadis itu pelan, menghentikan langkahnya. Ia menggeleng saat pria didepannya itu menoleh cepat kearahnya.<br><br> "haebin-ah, apa lagi yang kau takutkan. Aku yakin yujin mau memaafkanmu,"<br><br> "tidak mungkin" timpal haebin lirih. Pria itu menatap haebin dengan pandangan yang sulit diartikan, membuat gadis itu semakin meremas pegangan tangannya.<br><br> "demi aku, demi yujin dan persahabatan kita, kau mau kan melakukannya" ujar pria itu. Haebin mengangguk ragu. Namun pria itu langsung menarik tangannya dan berjalan kearah mendekati danau.<br><br> Yujin, ia membuka matanya perlahan dan sedikit terlonjak karna jonghun sudah berdiri dihadapannya. Tanpa bisa disangkal oleh perasaannya, ia senang sekali melihat pria yang dicintainya berdiri kokoh memandangnya. Semua hanya semu dan transparan. Ia senang bisa berada dalam jarak sedekat ini dengan jöghun, tapi ia sadar tidak akan pernah bisa memiliki hati pria berhidung pinokio itu. <br> "jonghun" panggil yujin pelan. Sebentar kemudian ia mengikuti arah pandang pria itu kearah belakang. Terpaksa ia menoleh kebelakang dan mendapati sahabatnya haebin ada disana.<br> "kumohon, maafkan haebin yu, aku yakin dia tidak berniat menamparmu seperti itu" ujar jonghun, berlutut dihadapan yujin. Digenggamnya tangan gadis itu dan menatapnya dengan tatapan memohon. Yujin menggeleng lemah. Jonghun pesimis dan merasa yujin benar benar marah. Hancur, ia tidak ingin Persahabatannya hancur begitu saja hanya karna kesalahpahaman tentang cinta.<br> "kenapa kau yang harus minta maaf jong, kau tidak salah" yujin menarik tangannya mengacak rambut depan jonghun.<br> "jika kau mau aku memaafkannya, biarkan dia yang melakukannya sendiri" ujar yujin. Suaranya terdengar semakin melemah. Rasa sakit ditubuhnya sekuat tenaga ia redam dengan segala perasaan bahagia yang tercipta disekelilingnya. Jonghun bangkit menyunggingkan sebelah bibirnya. Yujin memutar kursi rodanya berbalik menghadap kearah haebin yang masih berdiri mematung beberapa jarak didepannya. Lama, mereka saling menatap satu sama lain dari kejauhan. Tidak ada yang berniat saling menghampiri dari kedua gadis itu Seolah terdapat tembok penghalang yang cukup besar ditengah tengah mereka.<br> "hey~ shin haebin, boleh aku meminjam syalmu, disini dingin sekali" seru yujin setengah berteriak.<br>Suaranya terdengar samar samar karna ia tidak mempunyai tenaga yang cukup untuk berteriak lebih keras lagi. Yujin melempar senyuman yang akhirnya membuat haebin tersadar. Gadis itu berlari menghambur dan memeluk tubuh yujin erat. Lengan gadis itu terkunci saat haebin memeluk tubuhnya tanpa jeda memberi kehangatan lebih daripada sekedar syal yang diharapkannya.<br> "mianhae yujin-ah, jeongmal mianhae. . . . .aku benar benar egois. Aku tidak bisa mengontrol emosiku. Kau terlalu baik untuk kusalahkan atas semuanya yu, mianhaeyo" haebin terisak membuat bahunya bergetar. Jonghun memandang lega kearah 2 gadis yang selama ini mengisi warna warni kehidupannya.<br> "aku tidak bisa memiliki jonghun. Dia hanya milikmu haebin-ah, seharusnya kau tahu itu"<br> "aku tahu kesalahanku. Aku terlalu cepat emosi dan berburuk sangka terhadap kalian, mianhae, jeongmal mianhae yu" yujin mengusap punggung haebin dengan sebelah tangannya yang masih memiliki celah untuk bergerak. Haebin menarik diri melepas pelukannya. Dirasakannya jari yujin mengusap pipinya yang basah oleh air mata. Ia masih tidak percaya jika tak lama lagi mereka tidak akan pernah merasakan kelembutan serta sosok yujin selama ini disamping mereka. Haebin sadar jika tidak banyak waktu lagi yang dimiliki yujin untuk bisa terus berada ditempat ini.<br> "Yuu~" rajuk haebin kembali memeluk tubuh gadis renta itu. Hawa dingin semakin menusuk membuat yujin tidak bisa lagi menghalau matanya untuk menutup, merasakan hembusan angin yang begitu kuat ikut menerbangkan daun kering.<br> Tangannya menggantung disisi kursi rodanya membiarkan debu menghampiri setiap ruas jarinya.<br> "kau memaafkanku yuu~" tanya haebin.<br> "jika ini terasa sulit bagimu, mianhae"<br> "aku menyayangimu yujin-ah, aku menyayangi sahabat sahabatku, aku menyayangi kalian"<br> "jeongmal mianhae yujin-ah, jika kau ingin membalas tamparanku, kau boleh melakukannya sekarang"<br> "haebin-ah" seru jonghun agar haebin sadar atas ucapannya barusan.<br> "aku terlalu egois, tidak seharusnya aku melakukan itu padamu, haebin sangat jahat yu~ kau bisa menyalahkannya" racau haebin terus menerus menyalahkan dirinya. Tidak ada reaksi sedikitpun dari yujin saat berada dipelukan haebin yang terus mengoceh. Semuanya tampak tenang, setenang genangan air danau tempat mereka berada.<br> "Yuu~" seru haebin. Ia melepaskan pelukannya.<br> "yujin~ah, bangun"<br> "yujin-ah, sadarlah yujin-ah," sergah jonghun menggoncang tubuh yujin. tidak ada reaksi. Gadis itu tetap menutup matanya rapat membuat kepalanya terkulai lemah. Sesaat haebin jonghun saling memandang satu sama lain ketika remasan gadis itu semakin kuat menekan bahu yujin dan menangis.<br><br> ~~~~~~<br><br> Saemi tampak enggan berkedip menatap pintu ruangan bercat cream secara intens. Ia hanya bisa merasakan sosok yujin yang terbaring lemah didalam rungan itu tanpa mereka tahu apa yang terjadi selanjutnya. Kepalanya miring bersandar dibahu hongki yang duduk disampingnya. Sesekali pria itu menghela nafas berat menahan air mata yang hampir saja tumpah.<br>  Jaejin, adik lelaki yujin masih tetap berdiri didepan pintu mengintip kakanya lewat kaca kecil yan ada di daun pintu.<br><br> "apa yujin benar akan pergi" tanya saemi datar, membuat jaejin memberikan tatapan menghakimi seolah agar gadis itu menarik kata katanya.<br><br> "aku takut kehilangan yujin"<br><br> "jangan berkata seperti itu saemi-ah" tegur hongki. Suara lembut pria itu membuat saemi berhasil mengeluarkan air mata yang terus tertahan sedari tadi.<br><br> "kau sudah menghubungi orang tuamu jaejin-ah" tanya hongki. Jaejin mengangguk pelan. Tubuhnya yang kurus tampak lelah setelah semalaman ini tidak beristirahat.<br><br> "mereka akan tiba 2 hari lagi. Seluruh Penerbangan dari vancouver terpaksa dihentikan karna cuaca buruk akhir akhir ini" terangnya. Hongki semakin miris mendengarnya. 2 hari lagi orang tua mereka baru bisa melihat keadaan anakny yang sudah hampir sekarat itu. 2 hari, apakah waktu dua hari itu sangat lama. Apakah selama itu yujin masih bisa membuka mata dan tersenyum kearah orang tua mereka. Entahlah.<br><br> Jonghun berjalan gontai menyusuri lorong rumah sakit. Sinar mentari yang menerobos masuk menghujam lantai, ikut mengiringi langkahnya.<br><br> "jonghun-ah" seru saemi membuat hongki dan jaejin ikut menoleh kearah pria tampan bernama jonghun itu.<br> "bagaimana"<br><br> Jonghun menjatuhkan dirinya dikursi tunggu dengan sekali gerakan, duduk disamping saemi.<br><br> "Tidak bisa, aku tidak bisa mencegahnya" jonghun menggeleng lemah.<br><br> "ooh geez" desis saemi pelan menghela nafas berat seolah dihantam batu besar didasar hatinya.<br> "operasi akan dilakukan secepatnya, aku tidak bisa membuatnya berhenti bertindak bodoh" jonghun berkaca kaca memandang bergantian kearah saemi dan hongki.<br><br> "haebin-ah" hongki bersuara memecah keheningan diantara mereka. Gadis itu berjalan melambat sebelum akhirnya saemi menerjang dan memeluknya.<br><br> "aku minta maaf saemi-ah, aku telah bersikap egois terhadap kalian" tangis merekapun pecah.<br><br> "jangan membenci yujin, jonghun atau siapapun itu yang sudah menyakiti perasaanmu"<br><br> "tidak ada alasan bagiku untuk membenci mereka, Terlebih yujin. Kuharap dia mau memaafkanku" ujar haebin. Saemi kembali memeluknya erat.<br><br> ~~~~<br><strong> Haebin POV</strong><br><br> Tidak ada yang abadi didunia ini. Aku percaya itu. Sekalipun orang yang kita cintai meninggalkan mereka, tapi aku tahu jika cinta mereka tetap hadir disekeliling kita. Entah sudah berapa kali aku mengucapkan kata kata ini, aku tidak akan berhenti mengatakannya sampai keadaan kembali seperti semula, bagaimanapun caranya.<br><br> "mianhae. . ." aku berdiri dihadapan jonghun yang masih menunduk dikursi tunggu rumah sakit. Ia mengangkat kepalanya menatapku. <br> 'kumohon, jangan menatapku seperti itu, kau membuatku tersudut dan semakin merasa bersalah'<br><br> "katakan tidak jika kau sahabatku" ujarnya.<br> "katakan tidak, jika kau masih ingin aku menganggapmu kekasihku, haebin-ah,"<br><br> "jonghun-ah"<br><br> "kumohon haebin-ah, katakan tidak didepanku jika kau masih menghargai persahabatan ini dan yujin" desaknya. Aku menggeleng kuat semakin merasa terpojok.<br>"tidak, aku tidak akan melakukannya jong, untuk sekali ini saja tolong beri aku kesempatan" kataku. Sebisa mungkin aku tidak akan menangis melihat matanya yang sudah memerah.<br><br> "aku menyayangi yujin, aku menyayangimu, aku terlalu menyayangi kalian melebihi diriku, kumohon jangan menatapku seperti itu jonghun-ah" pintaku. Pria itu membuang pandangannya kesamping. Mataku terpejam membuat air mataku mengalir. Jonghun bangkit dan berjalan meninggalkanku tanpa sepatah katapun.<br><br> "jonghun-ah" kudengar hongki memanggilnya. Tidak, dia tidak akan berhenti jika sudah seperti itu. Emosi sedang menguasai dirinya saat ini.<br><br> Kakiku lemah, tidak bisa menahan lebih lama lagi beban tubuhku. Aku terjatuh kelantai dan menumpahkan semua air mataku tanpa henti membuat tubuhku terguncang.<br><br> "noona" seru jaejin.<br><br> "haebin-ah" saemi dan hongki menghambur kearahku dan membantuku berdiri. Tubuhku lemas akibat terlalu lama menangis. Tubuh saemi yang memelukku kujadikan penopang yang bisa memberi kekuatan untukku. Tidak terbayang oleh akal sehatku jika mereka tidak pernah hadir didalam kehidupanku. Aku akan selalu mengingat senyum yujin yang begitu manis saat menatap kami. Sikap periang milik hongki yang selalu berhasil membuat kami tertawa. Bahkan jika kau terlampau keras saat menertawakannya, hal itu bisa menyebabkan perutmu kram. Lee hongki yang menggelikan. Aku juga tidak akan pernah melupakan kenyamanan yang tercipta setiap aku berada disamping saemi dan mau mendengar ceritaku yang mungkin sangat membosankan. Gadis ini seperti dokter psikologis untukku.<br><br> "jonghun butuh waktu untuk sendiri hae" ujar hongki menenangkanku. Pria itu, meninggalkanku begitu saja tanpa mengatakan apapun. Apa jonghun marah dan membenciku, demi tuhan aku tidak berniat membuatnya marah atas semua sikapku. Jika aku begitu menjengkelkan untuknya, kuharap setelah ini kita tidak saling bertemu. Tatapannya yang teduh malah semakin membuatku ingin memeluknya. Aku tidak akan pernah lupa setiap kehangatan yang selalu diberikan olehnya. Terhadapku, terhadap kami. Aku rasa aku tahu kenapa yujin begitu ingin jonghun menemaninya saat penyakit begitu keras menghampiri tubuhnya. Pria itu bisa membuat yujin merasa tenang dan nyaman oleh setiap perilakunya. Cukup, jika terus mengingatnya, aku benar benar akan pingsan. Kueratkan pelukanku ditubuh saemi yang langsung dibalas olehnya.<br><br> ~~~~~~~~~<br><br><em>Cuz everyday I’m missin you<br>So many nights I call for you<br>Why do you have to go so far away? ~I've been waiting for you~<br>And everyday I think of you<br>So many nights I dream of you<br>Oh why? ~I've be there by your side; Ive been waiting for you~<br></em><br> ~~~~~<br><br><strong> Author POV</strong><br><br> Seoul masih setia menyuguhkan keindahan batang tubuhnya diselingi hembusan angin yang kian kuat menerpa pepohonan.<br><br> Lima sosok berpakaian santai namun sopan berjalan beriringan melewati jalan setapak disela sela batu nisan. Tidak ada yang mereka kenal dari setiap pemilik batu nisan itu, sampai mereka menemukan satu satunya tanah gundukan yang masih basah ditumbuhi rerumputan. <br>Saemi menyerahkan sebuket bunga pada jonghun agar pria itu meletakan sendiri diatas gundukan tanah.<br><br> "kami datang haebin-ah" ujar jonghun. Ia berjongkok meletakkan bunga lili putih didekat batu nisan bertuliskan shin haebin.<br><br> "haebin, kami semua merindukanmu. Neomu bogoshippeo" saemi angkat bicara.<br><br><em>I remember every kiss and every hug<br>We shared before I let you go<br>Sorry for the pain I never have to give<br>But I know I still love you so<br>I remember every kiss and every hug<br>We shared before I let you go<br>Sorry for the pain I never have to give<br>But I know I still love you so<br></em><br><br> "gomawo haebin-ah, sekarang aku merasa lebih egois dibanding dirimu, hatimu akan tetap kujaga sampai batas kemampuanku yang bisa kulakukan, jeongmal gomawoyo" yujin ikut berlutut memandang batu nisan. Jonghun yang juga berlutut berseberangan dengan dirinya hanya bisa menggenggam tangan gadis itu.<br><br> "Noona, terimakasih sudah menolong kakakku, kau terlalu baik" kini giliran jaejin yang berbicara, membuat yujin semakin berkaca kaca.<br><br> "kenapa dia begitu bodoh membuat keputusan sendiri untuk memberikan hatinya pada yujin, tsk" decak hongki yang langsung mendapat sorotan tajam dari saemi disampingnya. Pria itu meletakkan sebuket bunga mawar diatas pusara haebin yang masih menyisakan sisa bunga kering bekas pemakamannya dua minggu lalu. Haebin memutuskan untuk melakukan operasi dan memberikan organ hatinya kepada yujin. Sekalipun ia meyakinkan orang orang terdekat jika operasinya berhasil dan akan membuatnya tetap hidup, namun pada kenyataannya semua berbalik. Haebin menghembuskan nafas terakhirnya sehari setelah operasi pengangkatan hati dilakukan. Tubuhnya lemah dan tidak bisa bertahan lebih lama lagi.<br><br> "kau menyayangi kami melebihi dirimu sendiri, kau berhasil membuktikannya haebin-ah"<br>Just now<br><br>ujar jonghun menelusuri tanah makam dengan jarinya.<br><br> "Beristirahatlah dengan tenang haebin-ah, kami pulang dulu" pamit yujin lalu bangkit. <br><br> "kami semua menyayangimu shin haebin" imbuh saemi sebelum akhirnya air mata menggenang dipelupuk. Mereka beranjak pergi seiring hembusan angin yang ikut menerbangkan kelopak bunga lily diatas pusara haebin. Hongki meletakkan tangannya dibahu saemi, menopangnya agar tetap kuat untuk terus berjalan diikuti jaejin dibelakangnya. Jonghun menggenggam tangan yujin yang berada satu langkah lebih maju didepannya. Mereka segera menjauh dari areal pemakaman tempat haebin beristirahat. <br><br> "jeongmal. . . Gomawoyo" deru nafas berat berhembus diiringi angin yang menghela setiap sudut kota. Jonghun melempar pandangan kearah belakang dan mendapati gadis yang begitu dicintainya tersenyum kearahnya. siluet putih nan lembut itu terduduk diatas tanah dengan tatapan serta senyuman khas miliknya. Jonghun masih berusaha menyadarkan diri mengerjap ngerjapkan matanya berulang kali, berharap ini semua hanyalah fatamorgana belaka. Hatinya memburu seolah menamparnya jika ia tidak mungkin salah. Seperti dua ikatan batin yang saling berhubungan, dan kini ia hadir kembali untuk saling menyapa.<br><br> "haebin-ah"<br><br><br><em>I~ Dont want to let you go<br>I really dont want to see you go<br>But its time for us to say goodbye<br>I hate to say its over now<br>I~ Dont want to let you go<br>I really dont want to feel so cold<br>Its so hard for me to say goodbye (Its over)<br>I hate to say its (its over) over now<br></em><br><br>
]]>
</description>
<link>https://ameblo.jp/shinjikyo/entry-11079763664.html</link>
<pubDate>Tue, 15 Nov 2011 22:43:39 +0900</pubDate>
</item>
<item>
<title>FanFiction : love accidently</title>
<description>
<![CDATA[ Tittle: Try to ‘ Lovable’ you<br> rating: PG 15<br> Genre: mix<br> Cast:<br> -choi jonghun<br><br><a href="http://stat.ameba.jp/user_images/20111113/13/shinjikyo/00/6c/j/o0550038911608398590.jpg"><img src="https://stat.ameba.jp/user_images/20111113/13/shinjikyo/00/6c/j/t02200156_0550038911608398590.jpg" alt="$shin ji kyoのブログ" border="0"></a><br><br> -song hyo ra <br><br><a href="http://stat.ameba.jp/user_images/20111113/13/shinjikyo/1b/29/j/o0480064011608411453.jpg"><img src="https://stat.ameba.jp/user_images/20111113/13/shinjikyo/1b/29/j/t02200293_0480064011608411453.jpg" alt="$shin ji kyoのブログ" border="0"></a><br><br><br><br> Hanya gerakan jarum jam yang bernyanyi memecah kesunyian diantara dua orang beda gender diruang tamu. Seorang namja berhidung bak lumba lumba berdiri bersandar di pinggiran pintu seperti memikirkan sesuatu. Tangannya terlipat sempurna didepan dada menambah aura keangkuhan yang terpancar dari wajahnya.<br> "kau tahu kan kita tidak pacaran" tanya seorang gadis yang duduk disofa sambil memegangi kepalanya yang bertumpu pada lututnya. Namja itu tidak bersuara sama sekali membuat sang gadis sedikit geram.<br> "Kenapa kau diam saja dari tadi, benarkan kita tidak memiliki hubungan lebih dari sekedar teman" <br> "yah, seperti yang kau tahu" jawab namja itu. Ia akhirnya mau bersuara meski jawabannya tidak cukup melegakan bagi gadis berperawakan tomboy itu.<br> "Pemeriksaan medis tidak mungkin salah, ini sudah hasil tes ke lima yang kuterima, dan semuanya sama"<br> "lalu. . ."<br> "ini anakmu, aku hanya pernah melakukannya denganmu" suara gadis itu mulai melemah. "gila" umpatnya sembari menutup wajah dengan telapak tangannya.<br> "aku bahkan tidak pernah membayangkan hal ini terjadi padaku, aku masih ingin mengejar impianku bersama hongki dan yang lainnya, kau tahu itu kan" jelas gadis itu. Ucapannya barusan tidak membuat namja itu bergeming sedikitpun. Ekspresinya masih datar memandang ke halaman luar.<br> "jeongmal. . . Katakan sesuatu choi jonghun, jangan membuatku tersiksa seperti ini" gadis itu mulai terisak menjatuhkan tubuhnya bersandar kepunggung sofa dengan mata terpejam.<br>Jonghun yah, namja bernama choi jonghun itu segera beralih menghampiri gadis tersebut dan duduk disampingnya.<br> "jangan menangis, aku tidak pernah melihatmu menangis seperti ini, kau tahu kan aku tidak suka" ujar jonghun. Ia meraih kertas putih diatas meja, membaca barisan barisan kalimat dunia kedokteran yang ia sendiri kurang paham. Hanya goresan bertanda (+) positif yang ia dapat mengerti, menandakan bahwa hasil tes itu benar adanya atas kondisi gadis tomboy disampingnya.<br> "kau yakin kau hamil karenaku?" tanyanya.<br> "wae. . . Kau tidak percaya, kau tidak mau mengakuinya huh, begitukah, sementara malam itu kau bersenang senang dan melakukannya saat aku tidak sadar, apa ini tanggapanmu sekarang" cecar gadis itu.<br> "pertanyaan bodohmu benar benar membuatku mual jonghun-ah" kilatan emosi terpancar dari sorotan matanya saat bertutur. Secepat kilat ia menyambar kertas ditangan jonghun dan bangkit dari duduknya hendak beranjak pergi. Jonghun buru buru menahan tangannya.<br> "aku akan bertanggung jawab" ujarnya.<br> "tsk..plin plan, ternyata sikapmu itu tidak hilang sama sekali dalam situasi seperti ini"<br> "Kau mau aku bertanggung jawab kan hyora, kau mau aku mengakuinya kan, baiklah"<br> "hqeh, bahkan kau tidak benar benar ikhlas saat mengatakannya. Pernyataan macam apa itu" cibirnya. Hyora berusaha menepis tangannya namun cengkraman namja itu semakin kuat.<br><br> "lalu apa maumu sebenarnya Hyora-ah ?? Kau terlalu keras kepala dan mementingkan egomu, kau tahu itu huh, kau selalu saja berpikir negatif tentangku, mengertilah sedikit" jonghun sedikit meninggikan nada bicaranya.<br>Kini tubuhnya sejajar berhadapan dengan gadis bertubuh lebih pendek didepannya itu. Hyora berkaca kaca, matanya sudah tidak bisa menahan air mata yang terus memaksa ingin keluar. <br> "jangan menangis, aku tidak suka"<br> "bodoh, apa kau tidak sadar jika kau yang membuatku menangis" hyora terisak. Bahunya bergetar hebat. Sudah cukup baginya merasakan pahit kehidupannya sekarang. Ketika ia dan kakaknya harus berjuang bertahan hidup tanpa kedua orang tua mereka.<br> "uljima" jonghun meraih tubuhnya dan memeluknya. Hyora sempat berontak namun tenaga namja itu lebih kuat untuk menahan tubuhnya.<br> "lepaskan, kumohon, jangan membuatku berharap lebih jong- "<br> "ani" jawab jonghun semakin mengeratkan dekapannya. Untuk beberapa saat mereka hanya saling terdiam. Hyora masih terisak meski sejujurnya ia menginginkan sebuah tumpuan untuk dirinya menangis seperti ini. Dada jonghun sukses basah oleh air matanya. Jonghun mengendurkan pelukannya setelah dirasa gadis itu kembali tenang.<br> "Kenapa gadis tomboy sepertimu bisa menangis sampai seperti ini huh" tanya jonghun sedikit menggoda.<br> "bercandamu Tidak lucu"<br> "aniyo, aku tidak bercanda. Seumur umur aku mengenalmu baru kali ini aku melihatmu menangis hebat seperti tadi"<br> "seberapa lama kau mengenalku, tidak lebih dari satu dekade kan, itu belum cukup"<br> "Hahaha, jangan membangdingkanku dengan hongki, aku tahu dia mengenalmu lebih lama dariku, dia teman semasa kecilmu" Jonghun terkekeh mengoyak rambut hyora yang sedikit kusam. Untuk beberapa saat suasana mulai sedikit mencair. Hyora berusaha mengatur emosinya dan ikut tersenyum.<br> "Lalu" celetuknya. Jonghun mengangkat alis. Hyora menghadapkan kertas putih ditangannya kedepan wajah jonghun.<br> "arraseo" seru Namja itu menyingkirkan kertas didepan wajahnya dan membungkuk. Wajahnya kini tepat berhadapan dengan perut hyora yang tampak ramping. Sebentar ia mendongak menatap hyora seperti menanyakan sesuatu.<br> "Apa !!"<br> "aku bertanggung jawab. Ini anakku bukan" tanyanya. Hyora tak bergeming dan hanya mengulum bibirnya. Tiba tiba saja jonghun sudah mendaratkan bibirnya mengecup perut hyora untuk sesaat. Perlakuannya barusan berhasil membuat gadis itu terkejut dan hanya bisa berdiri terpaku melihat kelakuan jonghun.<br><br> ~~~~<br><br><strong> Hyora POV</strong><br><br> "MwoOo!!" suara namja cantik itu melengking membuat seisi ruang di studio menoleh kearahnya. Buru buru kubekap mulutnya sebelum ia berkata macam macam.<br> "kalau sampai orang lain mengetahuinya, kucincang lehermu sekarang juga, akan kuikat pita suaramu itu, kau mengerti lee hongki??" tandasku. Hongki menelan ludahnya ketakutan mendengar ancamanku. Aku tersenyum kecut kearah orang orang disekitar studio rekaman, memastikan kepada mereka bahwa tidak ada apa apa atas teriakan hongki barusan.<br> "ish~ menakutkan sekali yeoja ini" cibirnya melirik kearahku. "lalu sekarang bagaimana, aku tidak percaya jonghun melakukannya. Apa untungnya tidur dengan yeoja bengal sepertimu, apa dia buta?" <br> Pletak~ <br>kujitak kepalanya tanpa ampun ketika hongki mengolokku.<br>"jaga bicaramau. Atau kau mau aku mencincangmu sekarang juga"<br> "tsk. . . Ne ne, seharusnya wanita hamil tidak baik mengumpat seperti itu" sergah hongki. Hahha, Tenang saja, Aku tidak benar benar akan melakukannya pada sahabatku ini. Aku hanya suka menggodanya ketika ia mulai berulah.<br> "apa dia mau mengakuinya?" Tanya hongki.<br> "Menurutmu??"<br> "tidak. . .jonghun terlalu dingin, sifatnya tidak cocok untukmu, kujamin hidupmu tidak akan bahagia dengannya jika kalian menikah"<br> "Ya! Kenapa bisa begitu, jika ku katakan dia romantis dan perhatian, bagaimana??! "<br> "ck, itu hanya sementara, percayalah padaku, Selama di bangku SMP aku mengenalnya, dia benar benar tidak bisa memperlakukan yeoja dengan sangat baik, aku mengenal choi jonghun lebih lama darimu hyo" jelas hongki panjang lebar. Pikiranku sempat terbuai oleh ceritanya barusan, namun segera kutepis pikiran dan prasangka buruk yang mulai menari diotakku. Aku tidak pernah mencintai jonghun atau bahkan berpacaran, karna kami hanya berteman dekat, kejadian malam itu benar benar diluar kesadaranku. Aku dalam keadaan mabuk dan diaa, . . . Entahlah, kurasa mabuk juga. Setengah mabuk tepatnya setelah mengadakan perayaan pesta peluncuran single band pertamaku. Semua orang pasti berfikir aneh ketika melihat penampilanku. Gadis tomboy dengan jeans belel serta kaos kebesaran yang selalu mendominasi penampilanku, mau maunya ‘Tidur’ dengan laki laki seperti choi jonghun. Rambutku memang panjang, tapi tidak akan ada yang sadar ketika aku menguncirnya hingga habis diatas kepala.<br> "kau sudah mengatakan pada hyungmu" aku menggeleng lemah.<br> "aish~ bisa kutebak. Kau pasti takut kakakmu akan member pelajaran kepada jonghun kan." sela hongki. "Bukan saatnya bersikap pengecut hyora-ah, ini masalah serius, minwoo hyung harus tahu soal kehamilanmu ini"<br> "aku hanya butuh waktu yang tepat untuk mengatakan pada minwoo oppa" kataku.<br> "Hyora-ah sebentar lagi giliranmu take vocal, bersiaplah" namja tinggi bernama seunghyun teman satu bandku itu masuk ke ruangan dan mengingatkanku. Kuharap pembicaranku dengan hongki barusan tidak ada seorangpun yang tahu, termasuk seunghyun.<br> "ne. . .aku segera kesana seung" balasku. Segera aku bangkit dari dudukku dan bersiap siap untuk take vocal.<br> "aku harus profesionl bukan. Kuharap emosiku tidak kacau saat take vocal nanti" ujarku penuh percaya diri. Hongki tersenyum tipis melihatku dan menggumam sesaat.<br><br> "aku masih tidak percaya jika sebentar lagi akan ada yang memanggilku ahjuhssi" celetuknya. Aku tertawa miris mendengar ucapannya.<br><br> ~~~~~<br><strong> Author POV</strong><br><br> Ketegangan kembali timbul ketika jonghun datang dan menerobos masuk menemui hyora didalam rumah. Gadis itu, Hongki dan minwoo kakaknya sudah ada diruang tamu memilih posisi duduk yang berbeda beda.<br> "ah, sepertinya aku harus pergi, sebentar lagi minhwan dan seunghyun mengajakku keluar" hongki memecah keheningan dan bangkit dari duduknya. "permisi hyung," pamitnya. ia menatap hyora sekilas dan beranjak keluar.<br> "aku percaya padamu jonghun-ah" ujarnya sembari menepuk bahu jonghun sebelum akhirnya keluar dari rumah. Jonghun hanya tersenyum sekilas.<br> "oppa~" minwoo tidak bergeming ketika hyora memanggilnya. Namja itu masih bersikap angkuh dan dingin seperti biasa, hanya mengetukan jarinya bermain di lengan sofa.<br> "hyung, kuharap kau mau mengerti, aku akan bertanggung jawab"  Jonghun angkat bicara. Hyora tahu namja itu terlihat sedikit gemetaran saat menjelaskan masalah ini pada kakaknya. Namun buru buru ia menatap lekat kearah jonghun untuk meyakinkan bahwa semua akan baik baik saja.<br> "kalian yakin bisa mengatasinya, bagaimana jika aku tidak mengijinkan kalian menikah dan hidup bersama" tanya minwoo santai, yang langsung membuat hyora melebarkan matanya.<br> "oppa~"<br> "hyung" seru hyora dan jonghun bersamaan.<br> "sudahlah. . .aku lelah" minwoo beranjak dan meninggalkan mereka berdua yang masih ternganga dengan sejuta pertanyaan yang menggantung dipikiran. Minwoo benar benar susah untuk diluluhkan dalam situasi seperti ini. Sekalipun hyora menangis dan memohon. Ia paham bagaimana sifat kakak kandungnya itu.<br><br> ~~~~<br><br> Sraak . . .sreek,<br> "nyonya. . kHiks cepat beri aku uang . . .kau khiks, tahu kan siapa aku, khiks, kau pasti punya uang khiks banyaaaak sekali, hahaha"<br> "pergi, jangan menggangguku, atau aku akan berteriak" ujar seorang ahjuhmma kepada orang dihadapannya yang sudah hilang kesadaran. Sudah jelas pria itu mabuk dilihat dari jalannya yang sempoyongan serta bicaranya yang ngawur. Wanita itu tampak ketakutan, tubuhnya sedikit gemetar sambil sesekali meremas remas tangannya.<br> "pergi, atau aku akan berteriak" ancamnya<br> "Hahaaha khiks, aku hanya butuh uang khiks mu nyonya, cepat beri aku uang, kau pasti orang kaya" sontak pemabuk itu mendekat dan mencengkeram lengan sang wanita paruh baya itu.<br> "ya! Lepaskan atau kupatahkan lehermu" teriak seorang wanita.<br> "kau khiks, siapa kau ikut campur urusanku khiks, dasar anak kecil"<br> "apa kau bìlang, anak kecil" umpat hyora dalam hati, ia sudah mengmbil ancang ancang untuk menyerang. Berkelahi serta adu fisik dengan seseorang seperti ini bukanlah hal yang asing baginya.<br> Buugh ~ satu hantaman tepat mengenai pipinya.<br> "sial"<br> "hqaha khiks, anak kecil sepertimu bisa apa" ujar si pemabuk senang melihat hyora tersungkur.<br> "kau bukan tandinganku khiks anak kecil" si pemabuk kembali menjalankan aksinya memaksa si wanita yang sedari tadi hanya berdiri terpaku dan berusaha mengoyak isi tasnya..<br> Buaagh. . ~<br> Si pemabuk tersungkur karna hyora baru saja memukulnya dengan batu yang ada di genggaman tangannya. Sekali hantaman membuatnya limbung dan ambruk.<br> "ahjuhmma, lari!" teriaknya sambil menarik tangan wanita itu untuk berlari. Sekuat tenaga ia berusaha menjauh sebelum pemabuk itu bangun dan mengejarnya. Ia bahkan tidak ingat jika ia sedang hamil, dan ini bisa saja membahayakan janinnya.<br> "hosh hosh hh. . . Ahjuhmma, hh, aku lelah, kau tidak apa apa" ujar hyora dengan nafas tersengal sengal saat sampai diujung jalan. Tangannya bertumpu pada kedua lutut dan mengatur nafasnya agar kembali normal.<br> "gomawo" ujar wanita itu berterima kasih setelah deru nafasnya kembali normal. <br> "sebaiknya lain kali hati hati jika berjalan sendirian ditempat ini. Apalagi dandananmu sangat berlebihan ahjuhmma"<br> "ah ne. . .gomawo sudah mengingatkanku" <br> "ahjuhmma sebenarnya mau kemana, maaf jika aku mengajakmu berlari sejauh ini"<br> "ah aniyo, itu mobilku, kita berlari kearah yang tepat" wanita itu sedikit terkekeh.<br> "ah baiklah, sepertinya aku yang salah arah, haha"<br>hyora tertawa membenarkan letak topinya.<br> "hahaha, kau gadis manis tidak seharusnya berkelahi seperti tadi, lihat, pipimu jadi lebam"<br> "ini sudah biasa ahjuhmma" Ujar hyora.<br> "baiklah, aku permisi dulu, hati hati dijalan ahjuhmma, annyeong" pamit hyora sambil membungkukkan badannya.<br> "ne annyeong"<br> Hyora kembali menyusuri jalanan setelah memastikan ahjuhmma tadi pergi bersama mobilnya. Dia teringat jika harus kerumah jonghun karna namja itu memintanya bertemu tadi. <br><br> ~~~~~~~<br><br> Hyora benar benar hanya bisa menunduk sambil mendekap bantal sofa didadanya. Dia sama sekali tidak berani bergerak atau berbicara sedikitpun ketika didepannya sudah berdiri seorang namja yang sudah membuatnya kesulitan bernafas selama beberapa menit ini. Jonghun berdiri dengan angkuhnya didepan gadis itu sembari melipat tangan. Takut jika namja itu berontak dan berbuat kasar, hyora lebih memilih diam dan mengunci mulutnya rapat rapat.<br> "Michyeoseo" umpat jonghun pelan. Hyora semakin meringkuk mengeratkan pelukannya terhadap bantal sofa. Baru kali ini ia benar benar merasa takut berhadapan dengan namja tampan berhidung lumba lumba itu setelah sekian lama berteman.<br> "Berapa usia kehamilanmu"<br> "7 minggu, wae" tanya hyora dengan wajah polosnya.<br> "tsk, kau masih bertanya kenapa, sementara kau baru saja berkelahi dan tidak sadar kalau kau sedang hamil" jonghun mencibir.<br> "aku...aku hanya menolong ahjuhmma, apa itu salah" hyora membela diri meski tidak berani menatap jonghun ia tahu namja itu mulai emosi,jika sebentar lagi jonghun menerkamnya ia pun sudah siap<br> "kau menolongnya tapi kau tidak menolong dirimu sendiri, kau ini benar benar keras kepala hyora-ah, kau ingin membunuh anakmu secara perlahan huh"<br> "jaga bicaramu choi jonghun" hyora akhirnya membentak. Ucapan jonghun barusan dirasa sudah keterlaluan. Dia memang tidak ingin hal ini terjadi dalam hidupnya, tapi tidak ada niatnya sedikitpun untuk membuat anak ini kehilangan nyawanya. Sesaat mereka berdua hanya saling menatap tajam satu sama lain dalam aura ketegangan yang sudah mencapai puncaknya. Suara detik jarum jam sudah tidak bisa lagi mencairkan suasana seperti biasanya. Jonghun lekas menarik tangan hyora menaiki tangga, mereka menuju kamar jonghun.<br><br><br> <strong>Jonghun POV</strong><br><br> Kubawa paksa hyora kekamarku dan mendudukannya diranjang. Aku segera keluar kamar dan mencari kotak obat untuk membersihkan luka lebamnya setelah berkelahi.<br> "gadis bodoh" cibirku sambil terus mencari kotak obat dilemari penyimpanan. aku menemukannya.<br> "Augh~ pelan pelan" rintihnya ketika kuusap ujung bibirnya yang luka dengan kapas beralkohol.<br> "sakit?"<br> "masih bertanya??" dengusnya kesal. Aku tidak menjawab dan masih terus menyelesaikan aksiku mengompres lebam dipipinya dengan alkohol.<br> "Kau ini pria berkepribadian ganda ya?? Sebentar-sebentar seperti singa, tapi sebentar kemudian kau bisa seperti malaikat penolong, memperlakukanku seperti ini "<br> "bodoh" ekspresinya berubah kesal mendengar aku mengatainya bodoh. Aku selesai menempel plester kecil di tulang hidungnya dan memberaskan kotak obat. Kutatap wajahnya secara intens sedikit membuatnya bergidik.<br> "jika aku tidak mau menikah denganmu dan tidak bertanggung jawab, bagaimana?" tanyaku tiba tiba. Sontak ia terdiam mendengar ucapanku dan menatapku dengan ekspresi yang sulit diartikan. Aku berharap ia mau mengeluarkan suaranya dan mencegahku untuk melakukannya.<br> "bagaimana jika aku tidak mau menikah dengan gadis preman yang suka berkelahi sepertimu" terangku.<br> "terserahlah, lakukan semaumu" <br> BLLaaaarRrrr~ aku terkejut mendengar jawabannya seperti sambaran petir bagiku.<br>"jangan mempermainkanku jonghun-ah, seharusnya dari awal aku sadar, orang sepertimu memang tidak bisa dipercaya, dan tidak bias memperlakukan wanita dengan baik" hyora tampak menggigit bibir bawahnya dan mulai berkaca kaca. Tanpa sadar bibirku sudah mengunci bibirnya. Aku sendiripun terkejut berani melakukannya. Aku mencium bibirnya untuk sepersekian detik yang kutahu itu cukup lama. Ia sama sekali tidak merespon dan hanya diam saja. Sial, aku bahkan sulit menarik tubuhku sendiri untuk menghentikan aksiku ini, berharap hyora akan mendorong tubuhku menjauh.<br> "Kenapa menciumku jong??" tanyanya memasang wajah polos.<br> "Jika aku mengatakan ini ciuman perpisahan karna aku tidak ingin menikahimu, apa kau percaya?" tanyaku gamblang. Ia terpaku berusaha mencerna kalimatku.<br> Sejurus kemudian ia menggeleng.<br> "Bagus, jadi jangan pernah berkelahi lagi seperti tadi, aku tidak mau terjadi sesuatu terhadap anakku" kataku sambil berlalu keluar kamar.<br> "Ya! Jadi kau hanya khawatir pada bayi ini, bagaimana denganku" teriaknya.<br>"kau sudah besar dan bisa menjaga diri kan"<br> "jawaban bodoh macam apa itu, menyebalkan, kalau saja tidak ingat kau ayah dari anak ini, kucincang tubuhmu sekarang juga" hyora masih saja mengomel sendirian dikamarku. Gadis itu senang sekali mengucap sumpah serapahnya. Apa dia tidak sadar hal tersebut bisa berefek buruk terhadap janinnya. Tsk, sampai sekarang aku masih tidak percaya jika diperutnya ada kehidupan seorang bayi, anakku.<br><br> ~~~~<br><br> Hyora diam diam membuka botol soju keempat yang tersaji dihadapannya. Dengan tenaga yang tersisa ia berusaha membuka tutup botol meski beberapa kali sempat meleset.<br> "Hyora-ah berhentilah, kau sudah mabuk berat sekarang, ayolah hyo~" hongki menarik paksa botol soju dari genggaman gadis itu. Tapi tidak berhasil karna hyora memegangnya terlalu kuat. Sesekali ia meracau yang hongki tidak mengerti maksudnya.<br> "haha, aku benar benar gila hongki-ah, ckhik. . .oppa tidak suka dengan jonghun, anak ini tidak memiliki ayah" Racau hyora. Ia kembali menenggak soju tanpa memberikan kesempatan untuknya bernafas saat meminum. Hongki berusaha menepis namun malah dirinya yang terjerembab kebelakang karna dorongan gadis itu.<br> "oppa menamparku, ckhik. tapi itu tidak sakit sama sekali, haha"<br> "aish~ jeongmal micheosseo, aku bisa ikutan gila sendiri menghadapimu seperti ini"<br> Hongki mengeluarkan ponselnya dan segera menekan nekan tombol keypadnya. Sejurus kemudian ia tersambung dengan seseorang.<br><br> ~~~<br><br> "kenapa kau membiarkannya mabuk??"<br>"aku sudah mencegahnya tapi malah aku yang mendapat pukulan. gadis itu benar benar seperti macan jika mabuk seperti itu" keluh hongki mengadu kepada jonghun yang masih fokus menyetir. Hyora akhirnya tertidur di jok belakang setelah puas meracau tak karuan saat jonghun dan hongki berhasil membawanya keluar dari pub.<br> "dia bilang minwoo hyung habis menamparnya, apa kau juga tahu" tanya hongki. Jonghun memperlambat laju mobilnya dan menatap kearah hongki. <br> "aku tidak menyalahkanmu atas kejadian ini, aku hanya merasa ini terlalu berat untuk mereka yang hanya hidup berdua" hongki melirik kebelakang kearah gadis yang masih tidak sadarkan diri itu. Tatapan iba mendominasi matanya yang intens menatap hyora dan jonghun secara bergantian.<br> "sudah sampai" jonghun memecah keheningan. "kau pulang saja hongki-ah, aku bisa membawanya sendiri masuk kedalam" ujar jonghun sesampainya mereka didepan bangunan bercat putih minimalis.<br> "kau yakin, setidaknya kau siap jika minwoo hyung melayangkan pukulan untukmu jika melihat adiknya seperti itu bersamamu" ujar hongki was was.<br> "kau tenang saja, aku di didik untuk berani menghadapi apapun, sekalipun itu presiden korea"<br> "geez. . .ternyata kau masih saja terlihat angkuh dan percaya diri seperti itu" ejek hongki. "baiklak, aku pulang dulu, . . .jalga" hongki turun dari mobil dan berlalu membiarkan jonghun yang membawa masuk tubuh hyora kedalam rumah. Kebetulan sekali rumah hongki memang tidak jauh dari tempat tinggal hyora.<br><br><br><strong>Hyora POV</strong><br> Aku segera berlari ke kamar mandi ketika kurasakan perutku serasa diaduk aduk. Kunyalakan keran wastafel sambil memuntahkan semua isi perutku.<br> "aish~ jinjja, ini benar benar menyiksaku" aku mengeluh sambil terus memuntahkan semuanya dari mulutku.<br> "hyora-ah, neo gwenchana" seseorang masuk ke dalam kamar mandi tergesa gesa menghampiriku. Pandanganku masih buram karna nyawaku masih belum sepenuhnya terkumpul. Kurasakan tengkuk leherku dipijit perlahan olehnya membuatku bertambah mual dan memuntahkan semua isi perutku.<br> "hooeek"<br> "keluarkan saja semuanya" ujarnya. Aku membasuh mulut serta wajahku setelah kurasa tidak ada lagi yang bisa kumuntahkan. Perutku serasa dikuras habis habisan dan sekarang terasa sangat lapar.<br> "noe" aku terkejut saat menyadari jonghunlah yang menyodorkan air putih untukku. Aku meminum air putih ditanganku meneguknya sampai habis, setidaknya ini bisa mengganjal perutku sebelum oppa selesai membuat sarapan.<br> Kupandangi tubuhku sekilas mulai ujung kaki hingga dada sudah berganti dengan busana yang lebih minim. Bajuku, kemana bajuku, aku hanya mengenakan tank top dan hotpants. Astaga aku malu sekali berpakaian seperti ini didepan jonghun, sementara dirinya enak enakan tanpa dosa memandang kearahku seperti itu. Cepat cepat Kutarik selimut diranjang dan membungkus tubuhku lalu meringkuk disudut ranjang.<br> "kau. . .kenapa bisa ada disini pagi pagi sekali" tanyaku sakratis. "mwo. . . Jangan jangan kau semalam memang menginap, jinjja?? Lalu kau berbuat macam macam padaku, kemana bajuku, cepat kembalikan . . .dasar mesum"<br> "nde??. . . Apa kau bilang, setelah semalam kau mabuk berat, siapa yang membawamu pulang huh, siapa yang menggotong tubuhmu yang berat itu hingga ke dalam kamar, kau pikir siapa, enak saja menuduhku sembarangan" jonghun berkacak pinggang mengeluarkan semua unek uneknya membela diri karna ku bilang mesum.<br> "jadi, . .kau yang mengantarku pulang?!" tanyaku takut takut.<br> "masih bertanya huh?? Kalau tidak ingat kau sedang hamil anakku, bisa kusumpal mulutmu dengan jam wekker itu" ia melirik kearah weker digital diatas meja. Tatapannya benar benar sadis seperti ingin membunuhku saat itu juga. Kurasa dia masih punya hati, jadi tidak mungkin ia berani membunuhku, haha.<br> "sarapan sudah siap, kalian cepatlah turun sebelum kuhabiskan" minwoo oppa melongok dari pintu kamarku, menyuruh kami untuk segera turun dan sarapan.<br> "oppa. . . .dia" jariku menunjuk bergantian kearah jonghun dan minwoo oppa. aku terkejut melihat ekspresi kakakku yang sedikit berbeda ketika melihat jonghun. Sebenarnya ada apa ini. Kepalaku masih pusing tidak bisa mengingat ingat kejadian semalam karena aku sedang mabuk.<br>Minwoo oppa menutup pintu dan berlalu dari kamarku tapi tidak dengan jonghun. Namja itu masih berdiri ditemptnya di sisi ranjang sembari berkacak pinggang. Dan sekarang tatapannya benar benar terasa tajam menatap kearahku.<br> "Hyora-ah, apa aku harus berlutut di hadapanmu agar kau tidak melakukan hal ini lagi"<br> "nde??"<br> "meminum soju sebanyak itu apa memang bisa membuat beban pikiranmu menghilang. Bisakah??" tanyanya lembut namun tatap memberi penekanan.<br>"aku bertanya padamu song hyora" nada bicaranya sedikit meninggi. Aku sadar jonghun sedang emosi dan memarahiku, tapi moodku sedang buruk dan tidak bernafsu untuk berbicara dengan siapapun. Apa ini yang dikatakan morning sick oleh banyak orang jika terjadi pada wanita hamil?. Huft entahlah. Aku semakin malas mendengarnya mengoceh.<br> "apa pedulimu" rutukku pelan.<br> "tentu saja aku peduli! Kau sedang mengandung anakku hyora-ah, pria mana yang tidak khawatir melihat wanita hamil mabuk mabukan sepertimu tadi malam"<br> "yang kau khawatirkan hanya anak ini, bukan aku!!" emosiku terpancing dan membentaknya. Ya tuhan apa diriku dan jonghun harus bertengkar lagi, aku benar benar malas jika setiap hari harus seperti beetengkar seperti ini dengannya. <br> Jonghun menghampiriku di ranjang yang masih meringkuk membungkus tubuhku dengan selimut.<br> "kalaupun kau bersedia menikah denganku itu karna anak ini kan, kau hanya ingin anak ini kan" kataku asal asalan.<br> "jika ku katakan aku mencintaimu, apa kau percaya?"<br> "sama sekali tidak" jawabku tegas.<br> "kalau begitu mulai detik ini kau harus belajar mempercayainya, selagi aku benar benar mengatakan apa yang kurasakan tentang perasaanku sekarang" aku tertegun mendengarnya. Otakku berusaha keras mencerna kalimatnya barusan. Cinta? Jonghun mencintaiku. Benarkah? Atau itu hanya bualannya saja agar aku percaya jika dia tidak hanya menyayangi bayi ini. Tsk, pria macam apa dia ini sebenarnya.<br><br> ~~~~~~<br> <strong>Author POV</strong><br><br> "kenapa wajah kalian jadi tegang seperti itu"<br>minwoo memiringkan kepalanya melihat kearah hyora yang sedari tadi hanya diam memainkan garpunya. Hanya sedikit roti yang berhasil ditelannya ketika berada satu meja makan dengan jonghun dan kakaknya pagi ini. Minwoo melanjutkan sarapannya.<br> "bagaimana dia bisa bersikap baik baik saja terhadapmu" hyora berbisik kearah jonghun disampingnya. Namja itu hanya mengedikkan bahu.<br> "oppa. ." panggilnya ragu. Minwoo mengangkat kepalanya sembari menelan sarapan yang tersisa dimulut.<br> "Aku. . ."<br> ". . . . . . ."<br> "aku tidak akan menikah dengan choi jonghun" hyora tegas mengatakannya. Sontak kedua orang pria itu hanya bisa tercengang mendengar ucapan gadis itu barusan. Minwoo dan jonghun saling memandang satu sama lain, hampir saja sumpit ditangan jonghun terjatuh saat menggamit sarapannya.<br> "Hahahahahaha~" tawa kedua pria itu pecah menggema keseluruh penjuru dapur. Hyora hanya bisa menganga menyaksikan pemandangan aneh kedua namja itu.<br> "jangan bertampang polos seperti itu, membuatku ingin ke toilet saja" sergah jonghun. Hyora meninju lengannya membuat jonghun mengaduh serta meringis kesakitan.<br> "ya! Kalian berdua ini gila yah tiba tiba tertawa lepas seperti itu,cih" <br> "sebenarnya yang gila dia atau kita hyung" tanya jonghun. Minwoo terkekeh dan tetap melanjutkan sarapannya.<br> "geurae, jika kalian tidak mau mengatakan yang sebenarnya terjadi" kesal hyora dan bangkit dari kursinya. Jonghun buru buru menahan tangan gadis itu.<br> "Kau mau kemana" <br> "bukan urusanmu" jawabnya ketus.<br>"duduklah anak kecil, sebelum aku berubah fikiran" minwoo angkat bicara. Ucapannya barusan berhasil membuat hyora penasaran dan memilih untuk duduk kembali, menuruti perkataan kakaknya.<br> "mianhae hyora-ah" ujar minwoo sambil melipat tangannya diatas meja.<br> "untuk apa oppa meminta maaf padaku"<br> "aku benar benar hilang kesadaran saat menamparmu kemarin" sesal minwoo. Hyora hanya tersenyum tipis.<br> "hanya itu?? kupikir ada hal yang lebih penting" Hyora menghela nafas panjang, namun jonghun buru buru membalasnya.<br> "itulah yang tidak kusukai dari sifatmu, selalu menyela perkataan orang lain sebelum mereka selesai berbicara, tsk, sudahlah hyung, aku ke toilet sebentar" pamit jonghun setelah berhasil membuat gadis disampingnya melotot tajam kearahnya. Kakak beradik itu kembali berjibaku dengan suasana ketegangan.<br> "kau mencintai namja itu?" tanya minwoo menatap kearah jonghun yang sudah menghilang dibalik pintu kamar mandi disamping dapur.<br> "Entahlah, kurasa tidak"<br> "tapi kau dan dia tetap harus menikah bukan"<br> "aku tidak akan memaksa jika oppa tidak suka, selama ini aku selalu menuruti perkataanmu, eomma selalu berpesan padaku seperti itu" minwoo sedikit sensitif ketika hyora menyebut eomma mereka yang sudah meninggal. Sementara appanya meninggalkan mereka dan memilih tinggal diluar negeri bersama wanita lain. Benar benar kehidupan yang rumit.<br> "Semalam aku sudah berbicara dengan jonghun, dia mencintaimu. Aku jadi tidak tega melihatnya memohon padaku seperti tadi malam agar aku mengijinkan kalian menikah" terang minwoo. <br> "Mwo. . . Memangnya dia melakukan apa semalam" tanya hyora. Minwoo tidak menjawab dan beranjak, mengganti posisi duduknya berada disamping gadis itu.<br> "bagaimana jika aku mengijinkan kau menikah dengannya" <br> Hyora menggeleng kuat.<br> "Aku tidak percaya, jangan main main oppa, kau sendiri yang melarangku tempo hari"<br> "aku mengijinkan"<br> Hyora masih menggeleng.<br> "Baiklah jika kau menolak, aku akan batalkan semua rancangan gaun yang dibuat oleh yumi"<br> "jangan!" tahan hyora setengah berteriak. Minwoo yang hendak pergi, kembali duduk karena teriakan dongsaengnya.<br> "ne. . .ne. . Aku percaya, aku akan menikah dengan jonghun" minwoo tersenyum dan mengacak acak rambut hyora layaknya anak kecil.<br> "tsk, bahkan kau sudah merancang gaun untukku bersama kekasihmu itu diam diam, tanpa sepengetahuanku"<br> "ini tidak gratis, kau harus membayarnya" hyora membuka mulutnya membuat minwoo kembali tergelak meninggalkan gadis itu sendirian didapur.<br><br> ~~~~<br><br> Hyora memeluk tubuh hongki erat sekali, membuat namja itu sesekali batuk karna kesulitan bernafas. Orang orang di studio sudah tidak heran melihat pemandangan seperti itu.<br> "aigoo~ lepaskan hyo, jonghun bisa marah jika melihat kita seperti ini"<br> "mana mungkin, diapun tahu kau sahabatku, jika dia marah atau berani macam macam, bogem ini spesial untuknya" hongki bergidik setelah gadis itu membebaskan tubuhnya dan mengangkat bogem tangannya.<br><br> "geez, dasar yeoja tengil, semoga saja anakmu tidak menuruni sifat premanmu itu" cibir hongki. "wae, . .sepertinya kau senang sekali" tanya hongki meraih gitar disudut ruangan dan memainkannya.<br> "hmm, oppa mengijinkanku menikah dengan jonghun"<br> "jinjja??"<br> "Ne. . . Tidak lama lagi"<br> Hongki sedikit tertegun<br>"Apa itu berarti kau akan meninggalkan kita??" meski dalam hati hongki ragu akan sosok jonghun yang akan menikah dengannya itu, tapi ia tidak menampik jika ia juga ikut senang. Setidaknya ada yang membantu hyora mengurus bayinya kelak meski jika pada akhirnya gadis itu harus meninggalkan band yang sudah mereka bangun bersama sama.<br> "mwo, jadi noona akan keluar dari band ini?" minhwan yang sedari tadi sibuk dengan PSP kini menghentikan permainannya.<br> "aigo~ kenapa kalian jadi berpikir sejauh itu. Apa jika aku menikah aku tidak bisa bermain band lagi, skill bermain piano dan menyanyiku tidak akan lenyap hanya karna aku menikah" Ujar hyora menjawab pertanyaan minhwan yang sedikit tampak gusar.<br> "tapi jika perutmu memb. . ." hyora buru buru membekap hongki ketika tahu arah pembicaraan namja itu. Minhwan memandang penuh tanda tanya kearah mereka berdua.<br> "Wae hyung, memangnya kenapa dengan perut noona" tanya minhwan polos.<br> "a . . Aniyo, jangan hiraukan dia minan, kau tahu kan jika lee hongki ini suka berbicara yang aneh aneh" hyora mengelak.<br> "Tsk, aku tidak yakin, sepertinya ada yang kalian sembunyikan dari kami" minhwan berpura pura kesal.<br> "yah. . . .mungkin aku hanya akan berhenti selama setahun dari band"<br> "tapi setahun itu tidak sebentar noona, aigo~ aku pasti merindukanmu"<br> "haha. . .kau tenang saja, setidaknya aku tidak benar benar keluar dari band ini" hyora mengacak rambut namja yang setahun lebih muda darinya itu. Hongki hanya bisa termangu mendengar penuturan hyora barusan.<br> ~~~~~~<br> The day.<br><br><strong> Jonghun POV</strong><br> Hanya dibutuhkan waktu kurang dari sebulan untuk mempersiapkan segalanya. Dan sekarang aku sudah berdiri didepan altar mengenakan tuxedo warna putih dengan hati berdebar. Jantungku berpacu lebih cepat setiap detiknya menunggu sosok yeoja yang sebentar lagi menjadi istriku.<br>Berkali kali hongki menepuk pundakku dan mengucapkan kalimat yang sama.<br>"kau tenang saja, jangan gugup, dia tidak akan berdandan ala preman saat berdiri disitu nanti" canda hongki, sukses membuat gugupku sedikit mereda. Kudengar alunan musik yang lembut mendominasi ruangan. Aku tahu itu pertanda jika seorang pengantin wanita siap untuk masuk ke dalam gereja menuju altar. Aku membalikkan badan dan melihat sosok minwoo hyung berjalan berdampingan dengan wanita bertubuh lebih pendek darinya. Setelah sampai didekatku aku mengambil alih tangannya dan minwoo hyung segera beranjak melepaskan pegangan hyora ditangannya. Pendeta mulai membacakan kalimat kalimatnya hingga akhirnya hyora berkata dengan sangat tegas disaksikan oleh banyak orang.<br> "Aku bersedia"<br> "Dengan ini kalian telah sah menjadi suami istri" kelegaan seketika menghujani perasaanku saat pendeta mengucapkan kalimat terakhirnya. Aku berhadapan dengan hyora saat berpuluh puluh pasang mata bersorak meminta kami untuk berciuman. Kucondongkan tubuhku kearahnya hendak mencium bibir hyora.<br> "setelah ini kau harus belajar mencintaiku" bisikku.<br> "bagaimana jika aku menolak"<br> "kita lihat saja nanti" senyumku licik membuat hyora melebarkan matanya. Seketika aku berhasil mengunci bibirnya dengan bibirku. Cukup lama aku mendiamkan bibirku disana, ia sama sekali tidak merespon jadi kuputuskan untuk menarik tubuhku mundur. <br> "kau akan tahu akibatnya jika menolak . . . ." belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, gadis itu berbalik menyerangku dengan bibirnya. Tanpa basa basi kubalas memperdalam d ciumanku dengan menekan tengkuk lehernya.<br> "pendeta tidak menyuruh kalian berlama lama seperti itu, kau tidak tahu ada yang iri dibelakang kalian" celetuk hongki membuatku dan hyora menarik diri masing masing. Hongki melirik kearah minwoo hyung dan kekasihnya. Minwoo hyung melihat kearah hongki dengan tatapan membunuhnya sementara gadis bernama yumi wajahnya semakin merona menghiasi paras cantiknya.<br><br> <em>This life that I thought would be end<br> But its not<br> Everything going to be better<br> I would do the best that I'm not ever do before<br> A new life in a new love was coming up.<br></em><br><br>~END~<br><br>
]]>
</description>
<link>https://ameblo.jp/shinjikyo/entry-11077185210.html</link>
<pubDate>Sun, 13 Nov 2011 11:59:06 +0900</pubDate>
</item>
<item>
<title>has trying &gt;&lt;</title>
<description>
<![CDATA[ <font color="#00CCFF"></font><img src="https://stat.ameba.jp/blog/ucs/img/char/char2/188.gif" alt="べーっだ！">
]]>
</description>
<link>https://ameblo.jp/shinjikyo/entry-11067427564.html</link>
<pubDate>Thu, 03 Nov 2011 15:24:07 +0900</pubDate>
</item>
</channel>
</rss>
